jenuh.jpg Ada lima hal yang membuatku menuliskan posting ini. Yang pertama .. aku barusan menerima sepucuk e-mail yang melayang ke inbox ku. Kedua tentang postingan sahabatku sepuluh hari yang lalu. Ketiga, komentar temanku tentang seorang teman lainnya yang barusan dipromosikan. Kemudian sebuah artikel tentang politik kantor tak selalu kotor di RDI Edisi September 2007 dan yang terakhir sebuah tulisan berjudul Koneksi di halaman Klasika harian KOMPAS edisi Minggu 16 September 2007 yang ditulis oleh Experd Consultant. Semuanya membahas atau bicara seputar intrik, koneksi atau politik di kantor.

Ini sebagian isi e-mail yang ku terima dari sahabat ku : “Belakangan ini saya sedang gundah. Di kantor sedang ada perubahan. Ada peleburan. Dari dua divisi menjadi satu divisi dengan 2 manager, masing2 menangani masalah teknis operasional dan HRD / Keuangan. Sekarang di kantor sedang meributkan masalah ini. Saya ga tau mana yang harus saya percaya, bang!! Sepertinya dikantor terdapat beberapa kubu, pro dan kontra. Entah mana yang benar. Terima kasih bang dah mau ngebaca tulisan ini. Sebenernya agak sulit buat menuangkan semuanya. Tapi ya sudahlah semoga badai segera berlalu. Amin….”

Belakangan ini, keluhan yang senada seperti itu sering saya dengar dari teman, sahabat dan kolega. Kemaren seorang teman berkata sinis tentang promosi seorang teman lainnya yang – menurut dia – sarat koneksi (networking) karena teman yang dipromosikan tersebut memiliki hubungan yang dekat dengan sang pengambil keputusan. Dilain pihak, ada teman yang memiliki prestasi bagus tapi tidak kunjung di promosikan karena kurang dikenal oleh sang pengambil keputusan.

Menurut Ellen Rachman dan Sylvina Savitri dari Experd, dua dekade yang lalu istilah “koneksi”, “katabelletje”, dipandang sebagai sesuatu yang negatif, manipulatif alias hubungan ‘di bawah meja’. Dan di jaman dulu sering terdengar ungkapan sinis mengenai “2C” yaitu “connectie & centen”, koneksi dan uang. Tidak mengherankan bila masih ada professional yang tidak percaya bahwa membina hubungan, baik ke luar maupun di dalam perusahaan sebenarnya bisa berlandaskan niat yang positif dan bahwa hal ini sangat perlu diupayakan.

Disamping itu politik kantor merupakan metode informal serta kemahiran dan kelihaian mendapatkan kekuasaan atau keuntungan, misalnya berupa kemampuan mengendalikan sumber daya, atau membuat orang lain melakukan sesuatu seperti yang kita inginkan, jelas Andrew DuBrin dalam bukunya Winning Office Politics yang dikutip di RDI.

Yang paling penting .. koneksi atau networking maupun politik kantor jika dilakukan dengan sehat dan positip, akan membuat team work berjalan lancar karena masing2 individu sudah memiliki hubungan yang dekat serta dapat menjaga kekompakan team. Jika yang negatif, kesan-nya seperti networking (koneksi / pertemanan) .. tapi koalisinya bersifat sementara. Begitu proyek selesai atau target tercapai, networking itu bubar jalan.

Tidak semua sepakat dengan koneksi atau politik kantor. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Joel AR.Deluca, penulis buku Political Savvy, bahwa hanya 10% s/d 15% karyawan di AS yang terlibat dalam politik kantor. Sisanya memilih sikap apolitis, alias acuh terhadap politik kantor. Bagaimana di kantor / perusahaan anda?

Postingan terkait lainnya punya Blankers

Iklan