Terhenti jalan. Sepuluh hari. Tak berkabar berita. Senyap seperti tertelan sang malam. Sejak meninggalkan kota “nasi pecel” menyusuri jalan ke Nganjuk, Mojokerto dan berakhir di Surabaya sepuluh hari yang lalu. Dilanjutkan dengan melayang lepas bebas bersama sang besi bulat panjang menjelajah awan menyentuh Cengkareng dan akhirnya tuntas di Sepinggan yang terletak dibibir pantai kota “minyak”. Setelah itu .. aku tenggelam dengan seribu kesibukan baru. Terhenti jalan. Meletakkan kata tak sempat disini.

Banyak catatan terburai lepas. Tertinggal sepanjang jalan menuju tempat ini. Ke tempat semuanya seperti baru dan lama. Seperti ada dan tiada. Seperti lebih dan kurang. Seperti sudah demikian adanya. Ketika penerangan dari PLN seperti enggan hadir setiap harinya menerangi malam. Ketika membeli premium untuk genset tak lagi bisa di SPBU resmi. Ketika nasi pecel berganti menu menjadi nasi kuning.

Banyak akal dan lelah tak berkesinambungan. Membuat aku terhenti jalan. Menulis kata disini jadi tak sempat. Ketika memasang Speedy seperti mengajukan KPR di bank yang begitu banyak persyaratannya. Ketika memasang Indovision seperti sedang berhadapan pejabat birokrat yang duduk manis dengan senyum 10 cm seperti yang diajarkan oleh lembaga kepribadiaan. Terasa banyak kesulitan tapi juga terasa banyak kemudahan.

Haru biru. Campur. Terhenti jalan. Melihat kebelakang dan menatap kedepan. Mematut2 apakah posisi ku sudah benar biar tidak terjengkang ke belakang atau kesungkur ke depan. Rasa gamang mencoba mengelilingi. Rasa aneh dan rasa akrab. Semua berbaur seperti enggan memberi tempat sedikitpun buat ku untuk mengira2 aku mesti bagaimana.

Terhenti jalan. Bukan berarti akhir. Cuma mau menarik napas sejenak. Melihat sekeliling. Belum online benar. Karena lampu disini sering padam tanpa kompromi. Sambungan online di kantor sering ngambek ga mau kenal saluran. Mungkin aku memang harus berhenti sejenak. Tapi bukan sebagai akhir.

Iklan