Beberapa hari yang lalu, ada satu pertanyaan super ajaib yang pernah aku dengar dan ditujukan kepada diriku. Pertanyaannya sih .. simple aja. Tapi bagi ku, pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan sekedar basa basi. Karena, mungkin bagi sebagian orang .. hal itu menyenangkan. Bahkan membanggakan. Seakan2 separuh dunia sudah berada di-genggaman-nya. Dan tidak sedikit, menguber sampai jatuh bangun untuk mendapatkannya. Kalo perlu segala cara dan jurus dikeluarkan untuk merasakan nikmatnya. Tapi sebagian kecil – mungkin -berpandangan berbeda.

“Pak .. enak ga sih jadi pemimpin??” .. pertama mendengar. Kaget dan grogi. Enak apanya? fasilitasnya? kekuasaannya? atau apa? Bagiku, hal ini sulit untuk dijelaskan. Terutama kepada orang yang belum pernah menjadi pemimpin, atau yang merasa belum pernah memimpin walaupun hanya sebagai pemimpin rumah tangga. Karena, jika salah menjelaskan .. akan dipersepsi secara beda dengan yang dimaksud.

Pada waktu itu, aku jawab : “Biasa aja tuh” .. Ya. Karena – bagiku – biasa aja. Tidak ada yang istimewa. Gampangnya .. hidup ini adalah amanah dari Allah. Ketika aku ditakdirkan untuk menjadi bawahan. Ya aku jalani sebagai bawahan yang baik. Ketika aku ditakdirkan menjadi pimpinan. Ya menjadi pemimpin yang baik pula. Semua akan menjadi biasa saja ketika kita menyadari peran kita masing2 dalam kehidupan ini.

Aku memahami si penanya. Mengapa sampai pertanyaan tersebut terlontarikan. Mungkin karena dia sudah lelah melihat begitu banyaknya pemimpin yang telah meninggalkan rakyatnya atau anak buahnya pengikutnya dan asik dengan segala fasilitas dan kekuasaan yang digenggamnya. Sehingga para pengikut merasa terabaikan.

Mungkin bagi orang lain, pertanyaan tersebut biasa saja. Dan dapat dijawab dengan canda. Tapi .. aku kemudian berpikir. Apa yang telah terjadi? aku berusaha untuk introspeksi diri ku. Mencari-cari. Membongkar-bongkar. Menelisik-sisik. Aku pastikan bahwa menjadi pemimpin tidak lebih hebat dari menjadi bawahan. Menjadi pemimpin tidak lebih kuat dari pengikutnya. Menjadi pemimpin tidak lebih tinggi dari rakyat jelata.

Tidak mungkin ada pemimpin, jika tidak ada yang dipimpinnya.

A Ha .. aku ngerti sekarang. Beberapa hari sebelum pertanyaan itu dilontarkan kepada ku. Seorang sahabat curhat kepada ku. Dia berkata : “Aku kesal dengan bos ku dan merasa tidak dihargai. Masa dia katakan kepada client-ku. Bahwa keberhasilan unitnya berkat kehebatan dia di dalam memimpin. Seakan-akan .. kami-kami ini tidak ada artinya. Apa memang seperti itu seorang pemimpin??” .. Ya ya .. aku mengerti sekarang.

NB : Seminggu ke depan .. saya ga online. Ada tugas ke Jakarta dilanjutkan cuti.

Iklan