Selama seminggu di Jakarta, aku kembali akrab dengan kemacetan Jakarta setelah sekian lama tidak “menikmati” kendaraan yang merayap dijalanan. Ditambah dengan hujan, angin kencang, bubaran kantor, jalur busway dan orang seenaknya dijalan .. menambah komplit bumbu kemacetan dimana2, terutama di jalan2 favorite. Sambil menikmati “hidangan pemandangan” berbagai jenis mobil dan sepeda motor dikiri kanan taxi yang saya carter. Pak supir taxi ngedumel soal macet yang jadi menu utama sore itu. Dia mencoba memancing saya untuk berkomentar soal kemacetan. Aha .. iseng saya kambuh. Saya ga ngomentarin tapi malah nanya2 terus pendapat dia tentang kemacetan lalu lintas.

Menurut pak supir .. yang naik busway itu bukan orang2 yang berasal dari menengah ke atas, tapi menengah ke bawah. Dan yang naik busway adalah orang2 yang dulunya naik PPD, Kopaja, Metromini dll, sekarang naik busway. Selain lebih hemat, juga lebih cepat dan dingin dibanding angkutan umumnya konvensional. Kalau soal berdesak2an, orang2 tersebut sudah ba’al karena ga ada bedanya dengan PPD, Kopaja, Metromini dll sehingga mereka lebih cepat beradaptasi dengan “perjuangan” seperti itu.

Jadi yang naik busway, orangnya ya itu-itu juga. Itu kesimpulan pak supir taxi. Sehingga ga ada dampaknya terhadap pengurangan penggunaan kendaraan di pribadi dijalan raya. Alasannya sederhana. Mana ada orang yang kemana-mana dengan menggunakan kendaran pribadi mau berpayah-payah naik busway. Pake supir pula. Tas dibawakan pula. Bergengsi pula. Kalau pun macet. Yang cape kan supirnya, bukan si pemilik kendaraan. Sehingga .. tetap aja orang kaya ga mau naik busway. Karena naik busway belum senyaman kendaraan pribadi.

Aku hanya bisa tertawa geli ๐Ÿ˜† ah, pak supir aya-aya wae!!

Tapi bener koq .. kemacetan sudah makin parah di Jakarta. Menurut mbah Kompas, Minggu 18 Nopember 2007 yang mengutip data dari Polda Metropolitan Jakarta, bahwa pada tahun 2004, lalu lintas di Jakarta baru tercatat 38 titik kemacetan. Nah .. tiga tahun kemudian. Titik tersebut berkembang biak menjadi 112 titik kemacetan. Weleh weleh. Macet koq dikembang biakan sih?? ya iya lah .. karena jumlah kendaraannya saja ada 1.499.610 mobil pribadi dan 3.325.790 sepeda motor. Wiiihhh akeh.

Apa bener, penyebabnya hanya karena ada jalur busway?? atau jangan2 penyebab kemacetan karena para penjual di jalanan. “Tidak benar jika kami ini penyebab kemacetan. Kami tidak pernah menyetop pengendara di jalan. Kami justru ingin melayani mereka. Kami nyediani makanan untuk pengganjal -perut- di saat macet,” kata Gino (36) juragan bakpao di bilangan Grogol Utara, Kebayoran Lama ketika diwawancara wartawan Kompas, Susi Ivvaty & Frans Sartono ketika mereka di”tuduh” yang menjadi penyebab biang kemacetan.

Ah .. ternyata macet membawa berkah bagi sebagian orang. Seperti juga Johan yang tinggal di Bandengan, Jakut, yang sejak 2003 sudah berjualan cakwe ditengah kemacetan atau Manto yang juga berjualan bakpao. Mereka ada justru ketika kemacetan terjadi. “Kalo Jakarta ga macet, anak saya bisa nangis, hehehe” seloroh Manto, bapak dua anak tersebut.

Atau mungkin nunggu Pak De Michael Rubens Bloomberg jadi Gubernur DKI Jakarta agar Jakarta tidak macet lagi?? Beliau adalah Walikota New York dengan kebijakan “bunuh diri”nya seperti yang ditulis di Kompas edisi hari ini. Bayangkan .. untuk membangun kembali New York setelah serangan 11 September, dia mengambil keputusan yang tak pernah berani diambil walikota NY sebelum dia.

Berikut keputusannya yang kontroversial : Menaikan pajak properti 18%. Mengurangi pengeluaran termasuk menutup beberapa kantor pemadam kebakaran. Mengambil alih sekolah bermasalah. Memberlakukan larangan merokok di restoran dan bar. Mengendalikan peredaran senjata apai. Bahkan dia pernah menuntut puluhan pedagang senjata api ke pengadilan. Melarang penggunaan lemak di restoran cepat saji. Jalur sepeda akan diperbanyak. Taksi diganti dengan mobil hibrida. Setiap pengguna kendaraan pribadi yang melaju di Manhattan pada hari kerja dikenakan biaya kemacetan 8 dollar AS.

Memang banyak pihak menilai, kebijakan Bloomberg sama dengan bunuh diri politik. Tapi “Dia lebih mengutamakan menyelesaikan masalah, tidak mencari popularitas,” tulis The New York Times. Walau popularitasnya sempat melorot hingga tersisa 14% .. hasilnya keren. Tingkat kejahatan menurut 30%. Kelulusan dan jumlah nilai sekolah (semacam UAS kali ya) meningkat. Tingkat pengangguran menurun. Proyek konstruksi meningkat. Yang terpenting, kas daerah surplus. Sekarang dukungan terhadap Bloomberg meningkat sampai 70%. Keren kan.

Dan ucapannya yang paling keren ketika dia mengikuti pemilihan walikota kedua (2005) “Jika mau mencalonkan diri menjadi aparat pemerintah, akan lebih baik jika menjadi miliarder dulu, sehingga bisa fokus dalam bekerja.” yang diucapkannya untuk menampik komentar miring orang2 yang tidak bersimpati padanya.

Gimana dengan di Jakarta??

Iklan