Kemarin malam, aku kaget ketika membaca angka meteran di dispenser SPBU yang harus aku bayar untuk 30 liter pertamax .. Rp.210.900,- biasanya untuk jumlah yang sama aku cuma menyodorkan duit tak lebih dari Rp.193.500,- .. maklum, kebiasaan mengisi “perut” kendaraan ku dengan pertamax baru sebulan belakangan ini. Disesuaikan dengan kendaraan yang saat ini “dipinjamkan” kepada ku. Biasanya cuma premium yang harganya ga pernah berubah2 untuk jangka waktu lama demi menjaga kestabilan politik. Sehingga perubahan harga pertamax yang mengikuti harga dunia belum terbiasa buat ku.

Ada apa dengan minyak dunia. Kabar terbaru, sebentar lagi minyak dunia akan menembus angka USD 100 per barel atau sekitar Rp.941.000,- per barel dengan kurs tengah saat tulisan ini diposting, yang artinya Rp.5.919,- per liter. Hal ini dipicu menurunnya nilai tukar dolar AS serta merebaknya spekulasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan memangkas lagi suku bunganya. Investor beramai-ramai menarik dolarnya untuk dialihkan ke kontrak minyak. Permintaan besar yang mendadak itu membuat harga melambung. “Pasar sekarang melihat level USD 100 adalah target berikutnya dari kenaikan harga,” ujar Victor Shum, analis energi dari konsultan Purvin & Gertz di Singapura kemarin.

Pikiran ku tiba2 flashback ke masa2 di tahun 1970-1980 dimana kehidupan serba flat. Kurs dipatok tetap sehingga tidak terpengaruh dengan perubahan nilai tukar yang volatile. Semua jenis BBM disubsidi sehingga tidak terpengaruh dengan fluktuasi harga dunia. Hidup menjadi dataaarrrrr. Tanpa gejolak.

Tiada yang abadi. Semua kemudian berubah. Peristiwa demi peristiwa kemudian melahirkan riak2 kecil yang kemudian berkembang menjadi gelombang dahsyat. Yang semula tanpa gejolak, sekarang bergelora terus menerus. Hidup menjadi bergelombang. Harus pintar2 menjaga keseimbangan. Agar tidak oleng terlalu ke kiri atau ke kanan. Bisa2 tenggelam nantinya.

Dan juga harus pandai2 menata “barang2” agar tidak terpental akibat terjangan gelombang. Hidup telah berubah. Tiada yang abadi.

Iklan