malaysia.JPG Akhirnya Malaysia mengakui bahwa Reog Ponogoro adalah milik Indonesia. “Kerajaan Malaysia tak pernah mengklaim bahwa reog ataupun barong adalah milik kami,” ujar Datuk Zainal Abidin M. Zain usai melakukan pembicaraan tertutup sekitar satu jam lebih dengan Ketua Paguyuban Reog Se-Indonesia Begug Purnomosidi di Kedubes Malaysia seperti yang dikutip Jawa Pos hari ini. Menurut Zainal, semua promosi (reog) yang dilakukan di website Malaysia tersebut adalah karena kesenian tersebut ditemukan di wilayah negeri Johor dan Selangor. “Sekitar 150-200 tahun lalu, ada warga Indonesia berhijrah ke negeri kami. Mereka meneruskan budaya (kesenian reog) sampai saat ini,” ujar Zainal.

Jadi, dari komentar Datuk tersebut .. saya berpikir bahwa gonjang ganjing soal lagu Rasa Sayang Sayange, mematenkan motif batik jawa sampai reog Ponorogo berkaitan erat dengan promosi Malaysia untuk pariwisatanya. Mereka ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa Malaysia adalah Asia sesungguhnya. Karena suku bangsa terbesar di Asia – India, China dan Melayu – ada di Malaysia lengkap dengan budaya yang dibawa dari masing2 leluhurnya.

Dalam berpromosi, sering kali etika dikesampingkan. Walaupun ada pembenaran2 – misalnya dari hasil survey – untuk meng-klaim keunggulan sesuatu yang dipromosikan tersebut. Tidak jarang, jalan pintas pun ditempuh agar promosi menjadi menarik. Apakah itu melangar etika atau tidak, sang konseptor tetap meng-goal-kan campaign yang sudah didesainnya.

Malaysia merasa, sah2 saja untuk menyatakan budaya2 China, India dan Melayu adalah budaya mereka karena faktanya budaya2 tersebut memang ada di Malaysia. Hanya saja, Malaysia lebih “cerdik” dari Indonesia. Mereka melakukan pematenan, promosi dan membangun awarness tentang budaya Melayu, India dan China di Malaysia sehingga kampanye promosi Truly Asia benar2 bukan isapan jempol.

Sinyalemen ini sebenarnya sudah dibahas oleh Kompas pada tahun 2004 yang lalu. Tiga tahun yang lalu loh .. waktu itu – setahu saya – tidak ada reaksi apa2 dari Indonesia. Saya malah sering melihat iklan Truly Asia di TIME setiap minggu. Mereka benar2 berambisi untuk mewujudkan kampanye tersebut, walaupun – mungkin – mengabaikan etika.

Sama seperti budaya barongsai dan naga dibudaya China yang juga digelar di Malaysia dan di Indonesia. Sepertinya sah2 saja. Karena tidak di klaim sebagai bagian dari budaya Indonesia. Mungkin lebih bijak kalo Malaysia menyebutkan bahwa budaya Asia seperti Melayu (Indonesia) ada juga di Malayia. Dari pada harus mengklaim sebagai milik mereka.

Iklan