PengantinPekan Kenduri Perempuan Indonesia. Ada apa dengan perempuan Indonesia?? sampai2 mesti bikin kenduri di Plaza Semanggi – tempat favorite cK kopdar pula – pada tanggal 12 sd 14 Desember dan di Dharmawangsa Square dari tanggal 15 sd 16 Desember. Apa ada hubungannya dengan ribut2 soal kuota 30% perempuan di parlemen atau dalam rangka menyambut hari ibu ya?? Walaupun acaranya cuma pameran photo dan kerajinan tangan karya perempuan2 Indonesia, tak dapat dipungkiri bahwa kiprah perempuan di Indonesia semakin dominan.

Bukti ini, menjadi sebuah liputan menarik dari majalah Femina edisi minggu lalu. Dimana, pada jaman sekarang .. justru semakin banyak perempuan yang bekerja – terutama yang sudah menikah, sementara sang suami hanya berleha2 di rumah alias pengangguran. Hal ini tentu cukup memprihatinkan saya sebagai laki2.

Dan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) terlihat bahwa pertumbuhan partisipasi perempuan dalam lapangan pekerjaan cukup signifikan. Selama Pebruari 2006 hingga Pebruari 2007, jumlah tenaga kerja perempuan bertambah 2.120.000 orang sementara jumlah pekerja laki2 hanya bertambah 287.000 orang. Dengan kata lain, para laki2 itu terpaksa menganggur karena lapangan kerja sudah keburu diserobot oleh perempuan. Nah loh !!!

Saat krisis moneter melanda (1998), angka PHK sangat tinggi, yang dialami baik oleh pekerja perempuan maupun laki2. Namun setelah masa krisis berlalu dan lapangan pekerjaan kembali terbuka, sektor jasa merajai ekonomi kita. “Sektor jasa, diakui atau tidak, memang dianggap paling tepat ditangani perempuan. Karena, perempuan lebih tekun, lebih teliti dan lebih mudah berempati. Oleh sebab itu, lebih banyak tenaga kerja perempuan yang terserap,” jelas Linda Ibrahim, Sosiolog dari Universitas Indonesia.

Sementara, tenaga kerja laki2 yang terkena PHK seperti terpinggirkan. Boleh jadi, angka pengangguran di Indonesia per Pebruari 2007 yang mencapai 10.550.000 orang, mayoritas dialami laki2. Padahal .. dalam lingkungan keluarga, laki2 adalah kepala rumah tangga dan bertanggung jawab atas nafkah keluarga.

Kemudian .. majalah Femina mengadakan survey kecil-kecilan. Dan menemukan fakta bahwa dari 50 responden sekitar 10 orang mengaku memiliki kenalan perempuan karier yang cukup sukses (minimal posisinya manager) akan tetapi suaminya tidak bekerja. Padahal rata-rata suami mereka pernah bekerja sebelumnya. Namun, setelah kena PHK mereka tidak pernah ‘bangkit lagi’. Ada satu responden yang suaminya kena PHK 10 tahun yang lalu. Selebihnya (9 responden) ‘baru’ menganggur sekitar 5-6 tahun lalu.

Menurut Adriana Ginanjar, Psikolog dan Konsultan Perkawinan, para suami pengangguran tersebut pada dasarnya tidak sepenuhnya malas. Namun, setelah berupaya dan tidak juga berhasil, mereka jadi sadar tidak akan bisa mengejar ketertinggalannya. Apalagi bila posisi istrinya sudah jauh melejit meninggalkan posisinya sebelum di-PHK.

“Akhirnya, mereka pun berdalih bahwa tugasnya adalah mendukung karier istri. Dan, karena secara finansial tidak ada masalah berarti, dalam arti perekonomian rumah tangga jalan terus, mereka jadi tidak terpacu lagi mencari pekerjaan. Mereka lebih suka menerima kondisi ‘serba beres’ dari istri,” ungkap Adriana.

Dalam buku berjudul Manusia Indonesia Sebuah Pertanggungjawaban karangan Mochtar Lubis, menyebutkan ada 12 ciri manusia Indonesia. Salah satunya adalah : lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa. Nah, para laki2 yang nyaman bergantung pada sang istri ini, rupanya sangat menjiwai ‘keIndonesiaannya’.

Mereka tidak merasa perlu mencari kerja atau menciptakan pekerjaan, karena, toh, semua kebutuhan keluarga sudah terpenuhi. Apalagi, dari pengamatan Adriana, perilaku suami yang keenakan mendompleng istri ini, sedikit banyak juga dipengaruhi oleh keinginan perempuan untuk bebas mengejar karir.

Harus diakui, banyak perempuan yang tidak ingin suaminya mengekang atau mengatur langkahnya dalam mengaktualisasikan diri. Kalau suami bebas berkarir, mengapa istri harus dibatasi? Padahal, setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Kesetaraan yang dicari oleh istri, tak jarang ditanggapi, bahkan ‘dimanfaatkan’ oleh para suami dengan menerapkannya di segala bidang.

Termasuk dalam hal keuangan keluarga. Istri tidak bisa lagi menganggap bahwa gajinya adalah miliknya pribadi. Sama halnya dengan gaji suami, gaji istri juga harus menjadi milik bersama, dan digunakan untuk keperluan keluarga.

“Jadi jangan heran, bila suami masa kini tenang-tenang saja bila menjadi penganggur. Toh, semua kebutuhan sudah terpenuhi oleh istri. Rasa malu karena tidak bisa menafkahi keluarga pun tidak lagi seberat dulu. Pada zaman dulu, begitu suami menganggur, otomatis nafkah keluarga ikut hilang, dan hal itu menjadi beban yang sangat berat bagi suami,” ungkap Adriana.

Yang bikin gemes, kata Linda, pola relasi suami istri tidak banyak berubah. Sikap dan pola pikir laki2 kita umumnya belum bergeser. Meski tidak memiliki penghasilan, mereka tetap saja merasa sebagai kepala keluarga, dan tak ragu menuntut hak-haknya. Padahal, nyaris semua kewajibannya sebagai kepala rumah tangga sudah diambil alih sang istri.

Menurut Syafiq Hasyim, Deputy Director International Center for Islam and Pluralism (ICIP), kalau istri sudah dipaksa bekerja, dan suami enggan memberi solusi, bahkan menolak saat istri mengajukan gugatan cerai, itu sudah bisa dikategorikan KDRT, yaitu kekerasan dalam bentuk ekonomi. Kekerasan ini terjadi karena suami memaksa istrinya melakukan hal yang bukan tanggung jawab utama sang istri.

Hmm .. bagaimana jadinya kalo di parlemen diisi oleh 30% perempuan .. kasihan banget ya, makin banyak laki2 yang jadi pengangguran. Ini tidak bisa dibiarkan. Sebagai laki2 .. masa kita mesti diam aja. Ayo kita buat juga kenduri *halah* .. ada pendapat ga atau sharing pengalaman .. terutama para suami yang saat ini sedang jobless.

Iklan