Kita Aku baik2 saja. Di luar sana yang membuat kita aku tampak tidak baik. Prestasi kita aku pun cemerlang. Di luar sana yang membuat kita aku seolah meredup. Kita semua Aku sudah bersih. Di luar sana yang membuat kita aku masih tampak kotor. Kita Aku tadinya akur2 saja satu sama lain. Di luar sana mewartakan gosip sehingga kita aku saling curiga. Kita Aku adalah yang terbaik. Di luar sana lah yang membuat kita aku seperti pecundang. Kita Aku harusnya yang paling unggul. Mengapa harus ada yang di luar sana. Mengapa yang di luar sana tidak menjadi kita aku? Biar hanya ada kita aku di dunia ini.

Kita Aku selalu memandang dari sisi kita aku. Seperti tidak ada dunia lain selain dunia kita ku. Ketika ada yang lebih baik dari kita aku, kita aku sibuk dengan beribu alasan. Bukan untuk memperbaiki diri agar kita aku menjadi lebih baik dari di luar sana. Membela diri lebih mudah dari pada kita aku mesti berbenah.

Kita Aku sudah mencapai prestasi tertinggi yang bisa kita aku capai. Tapi .. mengapa di luar sana melampaui prestasi kita ku. Coba di luar sana tidak berprestasi. Pasti kita aku yang paling berprestasi. Kita Aku sibuk menyebarkan warta kalau di luar sana curang, makanya bisa lebih baik prestasinya dari pada kita aku.

Kita Aku lupa .. bahwa hidup itu adalah kompetisi. Itu sudah sejak dari awal kehidupan. Ketika jutaan sperma berkompetisi membuahi sel telur. Jutaan lain kalah. Hanya satu atau dua yang berhasil membuahi sperma. Hidup itu kompetisi. Agar kita aku bisa bertahan. Bisa melihat posisi kita aku .. apakah di bawah, di tengah atau di atas. Di kiri, di tengah atau di kanan.

Ketika omset penjualan naik sebesar 100% dari tahun lalu. Kita Aku sudah bangga. Tapi cuma sementara. Karena ternyata, diluar sana kenaikannya 200% dibanding tahun lalu. Mengapa selalu ada di luar sana? yang menguburkan mimpi kita ku.

Ketika anak2 kita ku senang bermain di dalam rumah. Tiba2 di luar sana mengiming2kan permainan baru agar anak2 kita ku mau keluar rumah. Padahal apa yang kurang di dalam rumah kita ku. Di luar sana selalu menggoda anak kita ku untuk selalu keluar.

Seandainya kita aku tidak hanya sibuk di dalam. Seandainya kita aku mencoba berdiri di luar sana. Seandainya kita aku memupuk ketenangan jiwa.

Boleh jadi kita aku bisa lebih baik dari di luar sana. Boleh jadi kita aku bisa memahami di luar sana. Boleh jadi kita aku tidak tergoda untuk keluar. Sehingga kita aku tak perlu menyalahkan di luar sana.

Iklan