mbsm.jpg Usai berkopi darat ria dengan para penggemar teman2 ku, aku langsung ngabur ke Blitzmegaplex yang terletak di lantai 8 Grand Indonesia, persis berseberangan dengan Plaza Indonesia tempat aku melakukan jumpa fans kopdar. Di Blitzmegaplex tersebut, aku menghadiri nonton bareng film Mereka Bilang Saya Monyet yang tayang perdana dan menurut jadwal sih, acara dimulai jam 19:30 .. dan seperti biasanya, ga sah kalo ga telat. Akhirnya, setelah talk show ringan di pentas kecil di sudut Blitzmegaplex, jam 21:10 film baru dimulai. Sebelumnya sempat bagi2 hadiah buat pembaca Reader’s Digest Indonesia, Majalah Femina, Cita Cinta dan pendengar ufm. Bagian ini ga penting buat dibahas, soalnya aku ga dapat *halah*

Film yang diangkat dari cerpen karya Djenar Maesa Ayu – menurutku – terasa seperti film prosa. Lebih pada karya sastra dari pada film yang asik buat ditonton. Sejak awal, film sudah terasa kelam dan datar. Ditambah dengan ilustrasi musik yang mendayu2 tapi tidak sampai menitikkan air mata. Memang .. pada saat talk show tadi, Indra Herlambang – MC yang juga sebagai penulis skenario – mengatakan bahwa mereka berusaha untuk ‘setia’ pada alur yang ada di cerpen. Karena – biasanya – ketika sebuah novel atau cerpen yang akan diangkat ke layar perak akan dilakukan proses penyesuaian dan sering berbeda dengan naskah aslinya.

Judul film yang menggoda ku untuk menontonnya ternyata tidak dapat memuaskan pikiran ku. Greget mereka bilang saya monyet ga terasa. Karena .. setau ku, kata ‘mereka’ berarti jamak. Sedangkan di dalam cerita, aku mendapat kesan bahwa, hanya si ibu saja yang mengatakan dia monyet. Sedangkan teman2nya ga pernah bilang dia monyet. Apalagi pacar2nya yang bobo dengannya .. malah bilang ‘Cinta’ bukan monyet. Kalo pun ada kata2 kasar .. itu bukan menyebut nama hewan .. tapi menyebut profesi bagi penjual tubuh.

Bukan berarti film ini jelek. Mungkin secara teknis perfilman, cukup baik. Perpindahan kamera berjalan lancar dan mulus. Flash back juga dilakukan dengan manis. Editing filmnya juga konsisten. Walaupun .. yang nonton disebelah ku sempat ngedumel : “Koq sudah dirumah?” ketika pada scene sebelumnya digambarkan si monyet itu muntah di closet tempatnya dugem. Dan ketika berganti scene, sudah dirumahnya sendiri.

Yang pasti .. jika kalian ingin mencari film hiburan. Kaya’nya ga pas deh kalo nonton film ini. Bisa2 langsung nge-drop. Tapi kalo ingin melihat film festival, boleh lah tunggu ditayangkan ke publik pada bulan Januari tahun depan.

Iklan