taufik-ismail.jpg Sebentar lagi Lilia berulang tahun yang ke 16. Menjelang perayaan ulang tahunnya tersebut, Lilia gelisah. Dia bertanya .. mengapa kalo dia berulang tahun, selalu ada kue dan lilin diatasnya. Jika lilin ditiup dalam sekali hembusan napas, maka segala permohonan akan terkabulkan dan hidup akan sukses. Sepanjang usianya masih dibawah 20 tahun, jumlah lilin tidak menjadi masalah untuk ditiup. Bagaimana seandainya usianya 40 tahun atau bahkan 60 tahun. Berapa banyak lilin yang harus dia ditiup dan harus dalam sekali hembusan?? .. disamping itu, mengapa setiap dia berulang tahun .. justru dia diberikan kado ulang tahun. Bukan kah, seharusnya yang menerima kado itu adalah sang ibu, yang telah melahirkan Lilia sampai berdarah2?? bukan kah, ibu yang lebih pantas menerima hadiah dari nya .. karena sudah melahirkan dia??

Untuk mencari jawaban pertama, Lilia mencari jawabannya dengan cara browsing di internet. Dari situ dia mendapat jawaban bahwa budaya membakar lilin adalah budaya Eropa kuno – dipercaya pada waktu itu – untuk mengusir mahluk2 halus, setan, iblis dan sebangsanya. Budaya tersebut berkembang terus sampai ke jaman Romawi. Hal ini membuat Lilia bertekad, pada saat hari ulang tahunnya dia ga mau tiup lilin. Karena itu adalah kepercayaan kuno. Mengapa dijaman yang modern, masih dipertahankan keyakinan seperti itu?? Bukankah .. keinginan kita dapat terkabul berkat kerja keras?? bukan karena berhasil meniup lilin dalam sekali hembusan?? dia merasa meniup lilin adalah hal yang konyol.

Jawaban atas pertanyaan kedua, juga didapatkan dari pencarian tersebut. Budaya memberikan kado, juga berasal dari Romawi kuno untuk memperingati dewa Ra yang dilaksanakan disetiap akhir tahun. Sehingga .. semakin yakinlah Lilia bahwa pesta ulang tahun tidak perlu tiup lilin dan menerima kado. Justru Lilia yang akan memberi kado kepada ibunda tercinta, yang sudah melahirkan Lilia dengan mempertaruhkan nyawa sang bunda. Lilia ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu nya. Karena ibu, Lilia lahir dan hadir di dunia hampir 16 tahun yang lalu.

Aku terkesima mendengar cerita sore itu. Kisah itu .. meluncur indah dari mulut Bapak Taufik Ismail pada acara penutupan ESQ Leadership Training for Executive di Jakarta Convention Centre, beberapa hari yang lalu. Aku begitu suprise, karena bisa bertatap langsung dengan budayawan tersebut dan mendengar suaranya yang benar2 dapat menyihir ketika membacakan cerita tentang Lilia. Dan aku tersadarkan .. bahwa tiup lilin dan menerima kado di saat berulang tahun, adalah budaya kuno. Mumpung tahun baru. Perlu paradigma baru tentang ulang tahun.

*mohon maaf jika rewrite kisah ini tidak seindah dan setepat yang di tutur kan oleh sang budayawan, bapak Taufik Ismail*

Iklan