Kira-kira .. sudah lima tahun aku tidak berjumpa dengan beliau. Seorang ustadz dari salah satu pesantren terbesar di kota Balikpapan. Siang itu .. beliau – kebetulan – mampir ke kantor ku. Setelah sholat dzuhur di masjid depan kantor, kami pergi makan siang bersama sambil berbincang2 .. sampai akhirnya berbincang tentang kisah-kisah kegagalan ku ketika aku begitu yakin dengan kemampuan ku tapi justru malah berhasil dengan gemilang ketika aku mem-pasrah-kan diri ku pada kehendak-Nya .. beliau langsung berkata : “Apa yang mas Eby alami, sebenarnya ada dalam ayat Al Qur’an.” Aku kaget .. apa maksud pak ustadz mengatakan hal tersebut?? Mengapa ketika aku yakin, justru gagal. Dan ketika aku tidak yakin dan menyerah atas kehendak-Nya malah berhasil??

Beliau lantas bercerita, bahwa manusia cenderung memiliki togok dihati atau merasa paling tahu tentang kemampuan dirinya. Togok dihati bisa karena merasa lebih dari orang lain dan bisa juga dalam kekurangan sehingga sulit menerima masukan, saran atau pendapat orang lain untuk menutup kekurangan diri.

Ketika ayat pertama diturunkan kepada Rasulullah SAW .. “Bacalah,” kata malaikat Jibril pada Rasulullah dan Nabi mengatakan, “Saya tidak dapat membaca.” Perintah itu dilakukan sampai beberapa kali. Setelah dicoba lagi .. Rasulullah yang tadinya tidak dapat membaca tersebut, tiba-tiba dapat membaca. Keajaiban apakah ini, yang membuat Rasulullah yang tadinya tidak dapat membaca, menjadi dapat membaca??

Ketika pertama kali diperintahkan membaca, Rasulullah merasa dirinya tidak dapat membaca. Beliau yakin bahwa beliau memang tidak dapat membaca. Beliau, seakan-akan ingin mengatakan kepada malaikat .. mengapa disuruh membaca padahal beliau tidak dapat membaca. Sehingga .. ketika disuruh untuk kedua kali dan berikutnya. Beliau masih tetap merasa bahwa beliau tidak dapat membaca.

Baru ketika beliau menyebut nama Tuhan Yang Menciptakan nya dan menyerah pada kehendak-Nya .. beliau langsung dapat membaca. Seperti yang dikisahkan pada surah Al ‘Alaq ayat 1 – 8 :

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).

Begitu – kira2 – kisah yang diceritakan pak ustadz tersebut pada ku. Aku termenung .. membayangkan bagaimana perasaan Rasulullah pada saat itu. Dari yang tidak dapat membaca, tiba2 bisa membaca setelah menyebut nama Tuhan Yang Menciptakan nya. Sama halnya .. ketika aku sulit menyelesaikan suatu urusan, kemudian aku menyebut nama Tuhan Yang Menciptakan ku. Beberapa waktu kemudian .. pekerjaan tersebut dapat terselesaikan dengan baik. Subhanallah .. Dia mengajarkan kepada ku apa yang tidak aku ketahui. Dengan mengikis kesombongan (togok dihati), justru pertolongan yang Allah berikan kepada ku.

Kesombongan dapat menjadi belenggu, ada satu kisah yang cukup menarik yang aku kutip dari tulisan pak Arvan Pradiansyah.

Ada dua orang lelaki yang datang bertamu ke rumah seorang bijak .. tertegun keheranan. Mereka melihat si orang bijak sedang bekerja keras. Ia mengangkut air dalam ember kemudian menyikat lantai rumahnya. Keringatnya deras bercucuran. Menyaksikan keganjilan ini .. salah seorang lelaki ini bertanya, ”Apakah yang sedang engkau lakukan hai orang bijak?”

Orang bijak menjawab, ”Tadi aku kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat kepadaku. Aku memberikan banyak nasihat yang sangat bermanfaat bagi mereka. Merekapun tampak puas dan bahagia mendengar semua perkataanku. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba aku merasa menjadi orang yang hebat. Kesombonganku mulai bermunculan. Karena itu, aku melakukan pekerjaan ini untuk membunuh perasaan sombongku itu.”

Iklan