Aku tertegun, membaca judul postingan “Ketika Aku (hampir) Putus Asa” milik seorang yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya. Ketika ku baca, aku kaget .. ternyata dia berusaha untuk membunuh diri-nya : “.. entah kenapa aku membenturkan kepala bagian belakangku ke tembok, beberapa kali, lagi dan lagi. Aku gak tau .. kok melakukan hal ini, yang jelas aku benar-benar (hampir) putus asa. Tangan kiri ku .. aku pukul kan ke kayu – patahan meja komputer .. Hasilnya jari-jari tangan kiri ku sekarang malah aku perban seadanya. Aku plester dengan Hansaplast berulang-ulang – karena memang lukanya besar dan panjang. Untunglah saat itu gak ada Baygon, pisau atau tali .. bisa-bisa aku bunuh diri. Aku tak mengira bisa berbuat se-nekad ini .. aku sangat frustasi, gara-gara 2 mata kuliah yang mengulang trus dapat D lagi – jadi terpaksa ngulang lagi – padahal aku yakin aku bisa menjawab soal-soal UAS kemarin.”

Aku teringat kembali pada peristiwa yang ku alami sendiri – di awal tahun 1985 – yang merupakan titik balik kehidupan ku selanjutnya hingga kini.

Benar-benar di luar bayangan ku, ketika aku diterima di fakultas ekonomi. Ada 2 fakultas lain yang sebenarnya ku-tuju. Yaitu fakultas teknik sipil dan fakultas psikologi. Tapi takdir ternyata berkata lain. Justru fakultas yang disarankan oleh ibu-ku lah, aku diterima untuk kuliah, hingga selanjutnya mengantarkan aku bekerja di tempat yang berhubungan dengan ilmu ekonomi.

Pada semester pertama, banyak goncangan yang terjadi. Aku yang berlatar belakang SMA juruan IPA, terkaget2 ketika menerima perkuliahan -terutama – Akuntansi dan Ilmu Manajemen. Seperti mempelajari makhluk asing. Waktu itu, aku berdoa pada-Nya : “Ya Allah Yang Maha Mengetahui .. jika fakultas ekonomi tidak cocok untuk ku, mudahkan lah aku untuk tahun depan mencoba ikut test penerimaan mahasiswa baru lagi ya Allah”

Sampailah pada pengumuman mata kuliah pertama hasil ujian semester I pada awal tahun 1985 itu yang membuat ku shock. Karena nilai yang ku dapat adalah D. Aku terdiam. Sementara teman2 se-kelompok belajar-ku mendapat nilai B dan C. Hanya satu dua orang yang mendapat nilai A. Teman2 ku juga kaget ketika tahu kalo aku ga lulus.

Mereka berusaha menghiburku. Tapi justru aku tidak perlu dihibur. Saat itu aku sadar, mungkin ini bukan takdir ku. Bukankah aku ingin jadi arsitek?? jadi tidak mengapa kalau nilai ku mendapat D. Dan itu berarti aku tidak cocok di fakultas ekonomi.

Saat itu, aku sudah pasrah dengan nilai2 mata kuliah selanjutnya. Ku pikir, otak ku mungkin tidak pintar sehingga wajar aku mendapatkan nilai D.
*belakangan, nilai itu berubah menjadi C karena ternyata nilai absensi belum dimasukan .. thanks buat teman2 yang sudah ngurusin perubahan itu*

Singkat cerita .. pada titik itulah, pendapat ku tetang gelar sarjana berubah. Aku berpikir, hidup ini terlalu singkat untuk ditakuti sehingga aku putuskan .. persetan dengan nilai2 ujian. Kalau pun aku ditakdirkan DO, aku tidak ingin rugi waktu, rugi tenaga, rugi perasaan, rugi materi dll sehingga yang harus aku lakukan adalah – minimal – mendapatkan ilmu-nya jika tidak mendapatkan nilai-nya.

Dengan memilih mindset seperti itu, aku menyeleksi mata kuliah mana saja yang harus aku ambil duluan berdasarkan urgensi-nya sehingga dalam waktu 8 semester, seluruh mata kuliah dapat ku selesaikan dengan baik.

Walaupun IP ku tidak mencapai 3,00 .. itu tidak meniadakan takdir Allah tentang rejeki ku, tentang pekerjaan ku. Apa yang dulu-nya ku pikir tidak baik, boleh jadi Allah bilang baik. Terbukti aku masih tetap eksis disini sampai sekarang.

Karena, sejak titik itulah .. aku tak pernah kawatir dengan rejeki Allah dan aku tak pernah berprasangka buruk pada-Nya. Semua karena takdir-Nya bukan karena aku pintar, bukan karena aku hebat .. tapi karena aku memilih untuk menyerahkan takdir ku pada-Nya setelah aku berusaha sekuat tenaga.

Tulisan terkait :
Sarjana

Iklan