Mungkin saat ini banyak teman2 blogger yang sedang berjuang merebut gelar sarjana-nya. Ada yang anteng2 aja, ada yang berjuang mati2an sesuai dengan kapasitas yang dimiliki dan cita2 yang tergenggam didada. Apapun .. dimasa datang, perjuangan tidak akan semakin mudah. Yang menyandang gelar makin kesulitan mencari pekerjaan. Karena gelar sarjana tidak otomatis menjamin masa depan, jika kita tidak memiliki ketrampilan apa-pun .. aku jadi teringat kata Gede Prama .. hal yang dapat menyelamatkan hidup kita, bukanlah gelar pendidikan tapi ketrampilan, kira2 begitu kata beliau. Dan aku juga masih ingat kata Tantri Abeng .. bahwa gelar sarjana itu hanyalah anak kunci untuk masuk dalam ruangan. Ketika sudah ada di dalam ruangan .. kita tak perlu anak kunci lagi.

Postingan kali ini, tidak menganjurkan teman2 untuk tidak kuliah dan melupakan gelar sarjana. Tapi tidak juga membiarkan teman2 mensyakralkan gelar sarjana seperti kata2 sakti, abrakadabra, untuk mewujudkan semua keinginan yang ada. Disini, aku hanya menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan kata sarjana yang ku alami.

GELAR HANYA UNTUK MENYENANGKAN ORANG TUA
Ada seorang teman, yang mendapat gelar seabreg ketika wisuda. Selain gelar Sarjana Hukum (SH) yang disandang-nya, teman ku itu juga mendapat gelar wisudawan termuda (waktu itu usianya baru 21 tahunan), gelar wisudawan tercepat (hanya kuliah 3 tahun kurang dikit) dan gelar wisudawan terpintar (IP mendekati 4,00) .. praktis gelar terhormat itu diborong oleh satu orang. Gile beneeerr ..

Sampai pada suatu hari, aku bertanya pada temanku itu tentang masalah ilmu hukum – kan dia seorang sarjana hukum – apa perbedaan hipotik dan creditverbang. Dan, ketika dia menjawab pertanyaan ku itu, aku sepertinya mau pingsan mendapat jawabannya, yang kira2nya begini *maklum kejadian ini sudah 17 tahun lalu*

“Wadoh sorry bang .. aku ga ngerti. Soalnya, aku cuma belajar pas mau ujian. Kebetulan aku mudah menghafal pelajaran. Sehingga ketika menjawab ujian, aku mudah menjawabnya. Sekarang aku sudah lupa bang.” dia juga menjelaskan bahwa dia belajar giat agar lulus terbaik untuk membuat orang tua-nya bangga.

GELAR DIIKUTI DENGAN PERUBAHAN SIKAP
Kejadian ini sudah sekitar 15 tahun, tapi cukup berbekas buat ku dan membuat ku sadar arti sebuah penyesuaian sikap. Waktu itu, ada acara kantor .. kalo ga salah Malam Pisah Sambut pemimpin lama ke yang baru. Karena kerjaan ku banyak, aku telat pulang untuk mandi dan ganti pakaian. Begitu tiba ditempat acara, wakil pemimpin ku berkata :

“Kamu kan sarjana .. seharusnya memberikan contoh bagi teman2 yang tidak sarjana.” aku kaget mendengarnya. Aku lihat jam tanganku .. aku telat 5 menit dan acara pun memang belum mulai dan hanya segelintir orang yang datang. Tapi mengapa hanya aku saja yang ditegurnya??

Belakangan aku sadar, waktu itu – dikantor ku – yang bergelar sarjana baru beberapa orang saja .. ya sekitar 15% dari seluruh pegawai, sisanya tamatan SMU. Beliau ingin aku yang sarjana ini memberikan teladan kepada pegawai lainnya walaupun mereka lebih senior dari ku. Dan bagi .. teguran itu telah membangun jiwa ku untuk selalu – berusaha – on time.

MENCANTUMKAN GELAR
Ketika aku baru lulus dan diterima kerja, teman2 pada membuat kartu nama dan mencantumkan gelar mereka. Sementara aku tidak. Ketika ada yang bertanya, mengapa aku tidak mencantumkan gelar SE-ku dibelakang nama ku?? Aku cuma berkata, aku belum sanggup untuk menanggung beban gelar itu. Aku kawatir .. karena orang melihat gelar ku kemudian bertanya soal Ekonomi, aku tidak dapat menjawab. Alangkah malu-nya diri ku. Aku jadi ingat cerita teman ku yang sarjana hukum itu.

GELAR TIDAK SESUAI DENGAN PROFESI
Pada pertengahan tahun 90-an menjelang akhir abad 20, perusahaan tempat ku bekerja banyak merekrut sarjana2 baru. Biasanya .. sarjana lulusan tertentu saja yang diterima diperusahaan ku ini. Tapi entah kenapa, tiba2 muncul ketentuan dapat menerima segala macam jurusan. Akhirnya masukan Sarjana Perkapalan – padahal perusahaan ku bukan dibidang perkapalan, Sarjana Sastra – padahal di perusahaan ku bukan dibidang percetakan atau penerbitan, Sarjana Kimia – apalagi ini, wong perusahaan ku bukan pabrik koq .. tapi begitulah. Jangan tanya2 saya kerja dimana ya. *siapin kertas buat ngelempar*

GELAR?? PENTING GA SIH??
Tergantung ..
Ada seorang teman yang merampungkan gelarnya hingga 10 tahun dan nyaris DO gara-garanya keasikan bekerja. Ceritanya, dia sudah bekerja walaupun dengan ijazah SMA. Ketika perusahaan mulai memberlakukan syarat pendidikan minimal sarjana untuk bisa naik menjadi manager .. maka teman ku itu keblingsatan untuk menyelesaikan sarjananya. Hasilnya, ya gitu deh.

Ada lagi .. ada pekerja senior yang sangat menguasai bidang kerjanya. Sayang beliau tidak sarjana. Beliau menjadi ahli, karena pengalaman. Ketika perusahaan mulai menerima sarjana2 baru, kedudukan beliau terancam akan digantikan oleh sarjana2 yang belum punya pengalaman sama sekali. Beliau menghadapi dilema. Jika dia menularkan ilmunya, maka dapat dipastikan posisi beliau akan digeser oleh anak kemarin sore itu.

Syukurnya .. beliau berbesar hati, mau transfer knowledge *halah* membagi ilmunya kepada anak2 baru itu. Anak2 baru itu justru respek dengan beliau, walaupun ada juga yang melecehkan senior itu .. fresh graduate, bisa langsung jadi asisten manager gitu loh hehehe sementara si bapak mesti dari clerk dulu dan setelah bertahun2 baru bisa jadi asisten manager.

GELAR TAK SELAMANYA MENGERTI
Sudah menjadi kebiasaan ku, setiap meninggal satu unit kerja ke unit kerja yang lain karena mutasi, aku selalu minta feedback dari teman2 sekerja. Ada satu masukan yang menarik yang sampai saat ini aku selalu ingat terus.

“Bapak kalo memberi pengarahan, sering membuat kita tidak mengerti. Terlalu tinggi bahasanya,” wadoh .. kaget aku. Padahal mereka semua yang jadi staf ku – waktu itu – adalah sarjana. Aku baru sadar, bahwa walaupun mereka itu sarjana, ternyata tidak pasti dapat memahami apa yang ingin saya sampaikan. Sejak saat itu, aku selalu menakar2 pembicaraan tidak berdasarkan gelar. Karena bisa menyesatkan. Justru yang tamatan SMA sering kali malah dapat menangkap apa maksud ku. Atau jangan2 .. aku kali ya .. yang emang bolot hahaha 😆 ampun deh.

Sebenarnya masih banyak kisah yang berkaitan dengan gelar. Sebelum kalian bosen dan speed reading, mending aku udahin dulu. Kalo yang rajin membaca silakan klik tulisan terkait lainnya ya. Urun rembug-nya sangat diharapkan terutama teman2 yang sudah sarjana, biar sharing ke teman2 yang sedang mau sarjana atau tidak mau jadi sarjana.

Tulisan terkait :
1. Kompas cetak : Makin tinggi pendidikan makin gampang menganggur.
2. Afatih : Mengapa saya tidak pakai gelar akademis
3. Rovicky : Indeks prestasi untuk apa
4. Wiyanto : Sarjana nganggur melonjak
5. Priandoyo : Kuliah, Kerja plus Nikah.
6. Aku : Memilih berubah

Iklan