Karena dipaksa-paksa, akhirnya aku meng-iyakan ketika diajak nonton film Ayat-ayat Cinta. Perjalanan menuju Plaza Senayan sempat bikin deg-deg an .. bukan karena penasaran buat nonton film itu, tapi karena jalanan macet cet. Sehingga kawatir telat aja. Syukurlah, tiba 15 menit sebelum film dimulai. Dan .. usai nonton, pendapat ku tentang film itu cuma satu. Seperti nonton sinetron Indonesia yang ada di televisi. Suer. Bukan mengolok-olok. Tapi itu kesan yang ku dapat. Dan menurutku, film ini adalah salah satu film terjelek yang pernah ku tonton. Maaf buat pemuja film ini.

Faktor-faktor yang menurut ku membuat film ini jelek di mata ku, pertama : bintang sinetron bintang film yang memerankan tokoh Fahri, amat sangat teramat cupu. Ga ada kesan dewasa, matang, bijak seperti dalam novelnya. Pemilihan bintang itu, membuat aku teringat dengan tokoh Boy dalam film Catatan si Boy yang diperankan oleh Ongky Alexander. Anak muda yang gaul tapi religius. Dan aku seperti melihat Boy dari pada Fahri.

Kedua : Heii .. aku sedang nonton film Indonesia ala Mesir atau film Mesir ala Indonesia ya?? Benar-benar ga ada usaha untuk menciptakan image atau kesan bahwa adegan itu dilakukan di Mesir. Snapshot-nya amat sangat teramat tidak mendukung. Ga ada pen-citra-an kota Mesir. Yang ada cuma snapshot Piramid, Gurun Pasir dan Sungai – ga ngerti apakah ini sungai Nil beneran atau cuma dibelakang rumah. Dan ku pikir, ini film dibuat berbudget rendah. Sehingga .. penata artistik-nya benar-benar ala kadarnya. Seandainya bisa, mereka bisa take kota Mesir atau jalan-jalan kota Mesir dan kemudian zoom ke arah flat. Untuk selanjutnya dibuat di studio, ku pikir gpp. Menurut teman ku, kota Mesir ga boleh di take. Apa iya??

Ketiga : Dialog-dialog hampir seluruhnya pake bahasa wong kito, maksudne basa dewe. Terutama dengan orang-orang Mesir. Kalo dialog sesama mahasiswa Indonesia, ku pikir gpp kalo pake bahasa Indonesia. Pasti mas Hanung punya alasan mengapa banyak mengunakan bahasa Indonesia.

Keempat : Ya ampun .. ini film apa sinetron ya?? Berlebih-lebihan. Dan terlalu didramatisir. Dikisahkan seorang Aisah yang ternyata seperti kebayakan wanita di Indonesia. Ga seperti orang Turki yang besar di Jerman. Benar-benar ajaib. Apakah Habibulraqhman meng-amin-kan perubahan karakter ini?? Dan serunya .. melihat Fahri kerepotan ketika harus ber-poligami yang di novel-nya tak sempat dilalui Fahri karena Maria telah ke ‘surga’.

Kelima : Ga tahu ya .. apakah kualitas Hanung sedang drop atau gimana?? koq karakter Fahri yang top markotop seperti di novel-nya tak tampak. Malah terkesan Fahri itu orang yang emosional .. ngamuk-ngamuk dan ajaibnya malah dinasehatin sama ‘penjahat’ yang lebih paham soal surah Yusuf dari pada Fahri yang – konon – sangat paham tentang Al Qur’an.

Keenam : Filmnya kepanjangan. Mulai jam 21:05 .. usai jam 23:10 .. cape nontonnya dan ga ada nilai tambahnya. Cuma buang duit aja. Mungkin kalo dipaksa untuk mengambil sisi positip-nya adalah ternyata ayat-ayat cinta ga hanya bisa dibuat the movie nya tapi bisa juga dibikin sinetron *halah* ..

Oya supaya imbang, coba baca juga postingan-nya :
1. Hanung Bramantyo : Dari India menuju Jakarta
2. Hasan Junaidi : Kejanggalan film ayat-ayat cinta
3. Deteksi : Midnight ayat-ayat cinta
4. David : Film ayat-ayat cinta
5. Scooter : Film ayat-ayat cinta = buruk

UPDATE 7 MARET 2008!!!

080320081529.jpg Berita di Topik Malam ANTV pada hari ini, 7 Maret 2008, jam 23:00 WIB, menyiarkan wawancara dengan mas Hanung, sang sutradara sinetron film Ayat-ayat Cinta. Ketika ditanya mengapa membuat film Ayat-ayat Cinta, mas Hanung katakan bahwa beliau sudah muak melihat film Indonesia yang ber-genre horor dan cinta remaja. Sehingga mas Hanung berusaha membuat film yang bergenre lain dan ingin membuktikan bahwa film non horor dan non cinta ABG bisa juga laku dipasaran.

Maka diputuskanlah untuk mengangkat novel Ayat-ayat Cinta ke layar lebar yang menurut penilaian mas Hanung, novel tersebut dapat mewakili ‘keinginannya’ untuk mengangkat kisah yang bernuansa agama terutama tentang poligami. Jadi .. yang saya tangkap adalah bahwa novel itu memang hanya sebagai ide buat mas Hanung untuk membuat film diluar genre horor dan cinta ABG .. sehingga wajar kalo hasilnya memang tidak sama dengan novelnya karena sudah mendapatkan interpretasi tersendiri dari mas Hanung.

Pada kesempatan itu, penyiar juga bertanya pada Joko Anwar, dan mas Joko sepertinya keberatan jika merendahkan genre film lain. Beliau katakan, kalaupun film horor dibuat 100 film dalam setahun dan 100 film tersebut dibuat dengan kualitas yang bagus, kenapa tidak?? (maksudnya mengapa harus muak) .. saya setuju dengan mas Joko. Karena yang harus dinilai adalah kualitasnya.

Iklan