Begitu hiruk pikuk berita yang ku dengar di koran dan ku baca di televisi. Belum lagi yang berseliweran di dunia maya. Mulai dari berita seorang jaksa dirumah Jalan Terusan Hang Lekir II, seorang ibu dengan bayi yang masih dalam kandungan beserta anaknya yang masih kecil di Makasar, seorang auditor dan seorang wanita dalam mobil di pantai Ancol, Maia mengaku bukan WIL, American Idol sudah masuk babak 12 besar minggu ini, Heroes yang makin seru, Cinta Laura yang sedang menuju ojek ditengah hujan deras dan becek, blogger yang lagi perang kata-kata .. rasa-rasanya terlalu hiruk pikuk jika ku tulis semuanya disini. Berdesak-desakan *bayangin wartawan yang sedang berkerumun mewawancari narasumber* seakan ingin berkata : “Baca aku, baca aku” .. “Lihat aku, lihat aku” .. “Perhatikan aku, perhatikan aku” .. sementara di dunia nyata, disamping ku, ada anak istri yang perlu dibaca eh diperhatikan dan dilihat. Ada rekan sekantor yang perlu diperhatikan dan dilihat. Ada tetangga yang perlu diperhatikan dan dilihat. Betapa hiruk pikuk-nya dunia ini. Hmm .. dimana Tuhan berada?? jika semua meminta perhatian, meminta untuk dibaca, meminta untuk dilihat?? Betapa hiruk pikuk dunia ini ..

UPDATE !!! 9 MARET 2008

Postingan di atas, terasa lebih terlengkapi dalam dua artikel yang dimuat di harian Kompas dan Kontan, yang cuplikannya sebagai berikut :
———————————————————–
George Burgess adalah Direktur Universitas Florida. Ia mencatat, setiap tahun di seluruh dunia ada sekitar 150 orang yang mati karena tertimpa buah kelapa. Disisi lain, statistik menunjukkan selama 3 tahun, (2002-2004), hanya ada 14 orang yang tewas karena sambaran ikan hiu. Tapi, di koran, berita orang tersambar ikan hiu lebih ramai, heboh dan dramatis. Begitulah, orang memang lebih tertarik pada cerita yang hingar-bingar dari pada soal kelapa jatuh.

Orang lebih suka kehebohan, lebih suka gaduh. Walaupun korbannya 15 kali lebih besar, orang yang mati tertimpa buah kelapa rasanya memang kurang teatrikal. (Agung Adi Prasetyo, CEO Kompas Gramedia, Kolom Kopi Sabtu Pagi, Kontan, Sabtu 8 Maret 2008, halaman 1)
————————————————————-
Memang, perubahan radikal tengah terjadi pada bangsa ini. Reformasi tahun 1998 telah melengserkan rezim otoriter Orde Baru dan menggantinya dengan masa penuh kebebasan. Namun, pergeseran yang mendadak itu juga memicu masa transisi.

Satu sisi, kebebasan memberikan keleluasaan bagi semua lapisan masyarakat untuk berpendapat. Pada sisi lain, kebebasan itu memicu pertarungan, bahkan memungkinkan pemaksaan kehendak. Kenyataannya, ada kelompok-kelompok yang berusaha membakukan pandangan normatif, bahkan tafsir teks agamanya, dalam peraturan legal. (Ilham Khoiri, Monolog : Menggugat Kesumpekan, Kompas, Minggu 9 Maret 2008, halaman 27)

Iklan