Arti kata men·ja·di-ja·di [v] dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah bertambah hebat (banyak, besar, keras, dsb) mungkin dapat mewakili gambaran beban yang sedang dihadapi bangsa ini dalam waktu beberapa minggu belakangan ini. Gejala-nya dimulai dari harga minyak mentah dipasaran dunia yang tembus ke angka USD 100 per barel. Dan dengan sempurna, gejala latah menulari harga tepung, kedele, minyak goreng dan segera menyusul tarif listrik. Seorang teman, yang punya hobi meng-komsumsi mie instan menyampaikan SMS kegusarannya karena dia sudah tidak dapat menikmati mie instan ‘bersubsidi’ alias harga dibawah seceng.

Running text yang berlari-lari disudut bawah kotak kaca yang disiarkan oleh salah satu stasiun berita mengabarkan bahwa kondisi ketahanan pangan sudah berada pada titik terendah. Salah satu penyebab pangan semakin menipis adalah karena air hujan sedang getol-getolnya mampir ditengah sawah. Sehingga hasil panen tidak semeriah tahun sebelumnya.

Kemudian apa lagi yang bisa diperbuat?? ketika minyak goreng curah menembus angka diatas Rp.15 ribu. Ketika kedele jadi berubah identitas, wong sawo mateng jadi bule. Ketika terigu yang menguasai isi perut orang banyak berupa mie instan, roti dan kue sukses menggantikan posisi beras. Ketika diskon sedang marak di Mal / Plaza, PLN datang dengan program diskon yang penuh dengan syarat dan ketentuan.

Kemudian apa lagi yang bisa kita perbuat?? ketika besar pasak dari pada tiang. Kalo tidak besar, perut memberontak dan bisa menyusul jejak seorang ibu di Sulawesi Selatan yang meninggal bersama anak dan kandungannya. Kalo lebih besar, bisa-bisa menjadi NPL yang dapat menghantui dunia perbankan dan membuat negeri ini kolaps.

Begitu suram kah masa dengan bangsa ini?? Begitu pesimis kah?? Jangan sedih. Bangsa ini menderita tapi tetap bahagia. Ketika minyak goreng curah mahal, berganti minyak goreng kemasan. Ketika kedele melambung tinggi, menu-nya dikurangi. Ketika terigu mahal, jatah makan dipangkas. Ketika PLN akan bikin insentif, program lampu hemat energi (LHE) digalakkan. Ketika minyak tanah subsidinya makin membengkak, tabung gas gratis dibagi-bagikan.

Apakah semua tindakan itu telah menjadi solusi terbaik?? Saya harap begitu. PLN menjadi lebih baik. Subsidi minyak tanah menjadi berkurang. Pematang sawah tidak kebanjiran lagi saat hujan deras sehingga kita bisa tanam kedele, padi dan gandum. Tanah-tanah produktip buat pangan tidak dikonversi buat komersial. Tingkat produktivitas kelapa sawit bisa meningkat …

Eit tunggu .. stop mimpi-mimpi .. ya ya .. apakah saya bermimpi. Bukan kah mimpi itu lebih baik?? Aku jadi ingat dengan cerita seorang anak kecil penjual korek api. Setiap batang korek api dinyalakan .. dia bermimpi tentang kehangatan. Ketika apinya padam. Dinyalakan lagi korek api. Padam lagi. Nyalakan lagi. Begitu seterusnya .. sampai akhirnya jiwa terpisah dari raga.

Ops .. mudah-mudahan bangsa ini tidak seperti gadis penjual korek api. Tetap semangat. Tetap optimis. Tapi tetap membumi. Tidak menyelesaikan masalah sesaat saja. Dan jangan kawatir .. tahun depan rakyat berkuasa lagi. Gunakan hak suara dengan bijak. Pilih yang dapat membawa kita semua keluar dari keadaan yang menjadi-jadi ini .. sekali lagi .. hapus mimpi-mimpi. Saat nya kerja keras.

Iklan