Sudah baca postingan sebelumnya?? ketika jiwa tanpa raga; ketika jiwa dengan raga; raga dipuja?? berikut postingan lainnya .. yaitu hiruk pikuk dan menjadi-jadi .. kalo sudah, terima kasih banget sudah meluangkan banyak waktu dan benwit-nya buat mengakses postingan tersebut. Tapi jika belum sempat membaca postingan-postingan tersebut, gpp .. karena ini postingan terakhir dari seri pertama tentang kehidupan berdasarkan pertanyaan yang selalu muncul dalam benak ku .. yaitu tentang jiwa yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ji·wa [n] berarti : 1). roh manusia (yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan seseorang hidup); nyawa; 2). seluruh kehidupan batin manusia (yang terjadi dari perasaan, pikiran, angan-angan, dsb)

Apakah jiwa itu berpikir. Bukankah berpikir itu karena kita memiliki otak?? dengan otak yang baik dan sempurna, maka kita dapat berpikir dengan sempurna. Jiwa seperti listrik yang mengalirkan komputer agar komputer bisa beroperasi. Bagaimana jika syaraf-syaraf di otak ada yang ‘korslet’ sementara jiwa masih ada dalam raga?? ya .. paling kita terbaring koma atau masuk rumah sakit jiwa.

Apakah jiwa itu punya ingatan?? dapat mengingat dan menilai sesuatu?? bagaimana dengan orang-orang yang hilang ingatan padahal jiwanya masih bersemayam dalam raga?? .. bagaimana dengan raga yang menderita autis?? bukankah jiwa tetap milik mereka. Jadi .. jiwa itu seperti apa??

“… pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (surah An Nuur ayat 24)

Boleh jadi .. jiwa tak bisa berkata-kata, berpikir, bergerak .. karena berkata-kata adalah lidah, yang berpikir adalah otak, yang melaksanakan adalah tangan dan kaki. Jiwa hanya diam dan bisu. Seperti listrik yang mengalir dalam komputer. Baterai dalam robot. Tapi boleh jadi aku salah ..

“Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi, Maka barangsiapa yang menghendakai, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhan-nya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya dan orang kafir berkata: Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (Surat An-Naba’ ayat 38-40)

Jiwa hanya mengantarkan raga untuk melakukan sesuatu di dunia ini. Apakah jiwa kita tega merusak raga kita, menyalah gunakan raga kita dan membiarkan raga kita?? oya .. raga itu tidak saja yang dilihat langsung, tapi juga yang ada dalam batok kepala .. ah!! sudah ah!! .. kata teman, ga boleh terlalu banyak bertanya tentang jiwa .. ntar gila. Atau kata teman yang lain .. ntar sesat. Jadi .. kisah ini saya akhiri saja.

Terima kasih kepada JIWA-JIWA yang sudah memberikan komentarnya, dan membuktikan bahwa persahabatan kita bukan karena raga, yang berisi kemolekan tubuh dan kecerdasan akali .. tapi karena kita menghamba pada jiwa, ruh yang ditiupkan-Nya pada raga kita .. yaitu :

Adit yang sedang kasmaran,
Paman Goop yang mengayomi,
Ricky Saputra di ITB,
Mbak Nana yang manis,
Pak Alex di Andalusia,
Neng Yoga yang semangat,
Umi-nya Ibrahim & Maryam,
Mbak Hanna Fransisca,
Bos-nya para Bayut 😉,
Mas Edi Purwanto Silo Wardoyo pengagum Slash GNR,
Bang Mus yang baik hati,
Mbak Steysi yang suka darkness,
Cak Deteksi ayoo rek,
si manis cK,
Mas Joyo Kusumo dengan bhineka tunggal ika-nya,
Said sudah di Medan ya??,
cak Hasan yang sudah semangat lagi,
bung Zaldi yang bengak,
Kang Dobelden orang jawa barat keberatan disebut orang jawa 🙂,
kang Guru dengan foto-foto cantiknya,
kang Kopi yang sibuk dengan warungnya,
avatara me my self,
Almascatie di pulau terindah,
six to six asoy geboy,
bu Edratna yang sekeluarga blogger,
pak dokter Agus suka menolong,
Donny Reza membuktikan dirinya,
siswa ku Bedh,
neng Hilda yang sering mampir,
cabe rawit yang ga pedes 🙂,
Lai Kevin yang apa ya??,
Pyrrho mas?? 🙂,
mas Novry yang sabar sekali,
brainstrom yang sudah buka kedoknya,
yang ngaku-nya cewek tulen,
Wak Somat yang bijak,
Indra Turino yang bentar lagi jadi bapak,
bung Mihael Ellinsworth yang wise banget,
anak ku Moer di Bekasi,
mas Ndaru di Madiun,
icozya yang mempertanyakan dunia,
mbak Ira yang suka menolong orang,
terakhir terima kasih ku pada teman-teman yang freelance – ga ada blog – seperti mbak Anita di Semarang, mas Adit di Balikpapan dan neng Fit di Bandar Lampung, …

UPDATE 21 MARET 2007 !!!

Sastra dapat berfungsi sebagai media pendidikan jiwa, memperhalus budi pekerti, mempertajam kepekaan sosial, dan meningkatkan kecerdasan spiritual. Pendidikan tidak terbatas pada hal yang bersifat formal dan lahiriah, tetapi juga pendidikan nonformal dan informal, yang di dalamnya meliputi pendidikan jiwa atau budi pekerti.

Demikian Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Puji Santosa, dalam acara Dialog Sastra bersama sastrawan sufistik Danarto, di Palangkaraya, Jumat (21/3). Berita lebih lanjut dapat dilihat disini.

Iklan