laparan.jpg Perut ku keroncong. Hujan masih turun. Aku hanya bisa menatap pekatnya malam. Tak tahu bagaimana caranya agar perut ku dapat terisi. Perlahan badan ku mulai menggigil kedinginan. Aku coba mengosok-gosokan kedua telapak tanganku. Sehingga dingin dapat ku kurangi sedikit. Mata ku menangkap cahaya kecil diangkasa. Merangkak perlahan dari balik pohon kelapa .. terus membumbung tinggi dan kemudian menghilang. Sayup-sayup terdengar suara gemuruh yang kemudian juga mereda. Cahaya-cahaya itu berulang dan ulang .. hanya berselang 15 menit. Aku semakin mengigil.

Tadi siang, uang terakhir ku telah ku beli kan sebungkus nasi rames sebagai makan terakhir ku. Aku tak dapat berpikir lagi. Karena rasanya tenaga ku telah terkuras habis. Aku cuma berharap, nanti malam aku masih bisa bertahan. Dan besok aku berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa memberiku makan.

Ketika aku sedang menghabiskan makan siang ku, aku mendengar supir-supir yang sedang makan disamping ku bercerita tentang bos-bos mereka yang hari ini sudah berangkat liburan. Ada yang ke luar negeri, ke Jakarta, ke Bali, ke Jogjakarta atau sekedar pulang kampung. Dan yang mencengangkan .. harga tiket yang biasanya sekitar Rp.500 ribu, melonjak menjadi Rp.1,5 juta.

Aku melongo mendengar ocehan para supir itu. Tapi ku tepis kan rasa kaget ku. Aku sadar, aku tidak akan mungkin bisa seperti mereka. Jangankan menjadi bos, untuk menjadi supir pun aku tak sanggup. Aku termenung tentang nasib ku. Ketika aku lahir, aku sudah tak mengenal kedua orang tua ku. Aku hidup dari satu keluarga ke keluarga yang lain.

Akhirnya, aku terdampar di rumah singgah, yang membuatku merasa nyaman dan diterima oleh orang-orang yang ada disitu. Tapi, aku tetap merasa sendiri. Aku tidak ingin tergantung dengan belas kasihan orang lain. Aku berusaha mencari uang hanya untuk sesuap nasi.

Hujan masih terus turun .. cahaya-cahaya yang menuju langit mulai berkurang. Pertanda pesawat-pesawat itu sudah selesai mengantarkan para pemilik uang untuk berlibur, menghabiskan uang yang mereka kumpulkan .. entah dari mana. Yang pasti tentu dari gaji mereka. Sementara aku, masih berusaha melawan rasa lapar ku.

Ku baring kan tubuh ku di ubin yang basah. Dingin begitu menusuk. Aku pikir, aku ingin liburan juga .. libur dari derita. Aku ingin merasa kan bebas dari derita. Walaupun cuma sehari.

Iklan