blok.jpg

Sudah sejak minggu kemarin aku berburu gas. Iya .. gas elpiji yang 12 kg buat rumah tangga. Perburuan dimulai, ketika mendapat kabar bahwa cadangan gas di rumah mulai menipis dan toko yang biasanya mengantarkan gas sudah memberitahukan bahwa mereka sudah tidak mendapat supply gas lagi dari agen. Langsung terbayang dalam benak ku, jika harus antri seperti dalam foto yang ada di media massa. Dari pada mesti antri, ku putus kan untuk berburu gas elpiji dari toko ke toko. Hampir setiap hari aku datangi mereka. Dan semua mengatakan bahwa jatah mereka dikurangi separuh. Dan begitu tiba di toko mereka, langsung ludes.

Aku mungkin termasuk katrok informasi .. maklum, urusan dapur jarang ku inspeksi. Kecuali untuk urusan yang mendesak. Misalnya kran air bocor, kulkas ga dingin, blender rusak .. baru aku turun tangan. Nah, kali ini .. gas elpiji menghilang dari peredarannya. Dan sabtu kemarin, perburuan ku, ku akhiri. Bukan, bukan karena elpiji berhasil ku dapat, tapi aku dikabarkan oleh pemilik toko bahwa untuk 2-3 hari ke depan pasokan gas dari Pertamina di stop sama sekali.

Bujubune .. gimana dong. Gas yang tersisa dirumah memang masih seminggu lagi, tapi setelah itu?? apa aku mesti ganti pake kompor listrik aja?? .. wadoh, pan PLN juga sudah mulai naikin tarip-nya. Pusing. Pusing πŸ™„ ga ngerti deh. Aku kemudian mencoba mencari tahu, koq bisa-bisanya gas menghilang dari pasar.

Ternyata, sejak Januari 2008, kalangan industri dan pengusaha yang biasanya mengkonsumsi elpiji dalam kemasan 50 kg dan curah (kemasan 1 ton) beralih menggunakan elpiji 12 kg — yang nota bene dipake oleh rumah tangga — setelah adanya kenaikan harga oleh Pertamina. Sejak awal tahun ini, Pertamina menaikkan harga elpiji tabung 50 kg dari Rp 5.852 per kg jadi Rp 7.932. Adapun harga elpiji curah naik dari Rp 5.852 per kg jadi Rp 7.329. Sementara harga elpiji kemasan 12 kg tetap Rp 4.250 per kg.

Alamak .. ya jelas lah, pengusaha mana yang mau rugi beli gas seharga hampir 8 ribu sementara dipasaran ada gas yang dijual seharga 4 ribu. Aku benar-benar kagum dengan orang-orang pintar itu dalam menetapkan harga. Sehingga sukses membuat negeri ini ‘sengsara’. Berhasil membuat bangsa ini muncul dikoran-koran dengan budaya antri-nya. Mereka benar-benar hebat. Ku pikir, mereka pasti lulusan universitas yang hebat-hebat pula.

UPDATE 9 APRIL 2008

Dari sekian banyak komentar, ada beberapa sobat menyarankan ku untuk menggunakan kayu bakar. Walah piye toh Bat?? .. wong dirumah ku ga ada anglo — tungku dari tanah liat — je !!! .. secara rumah-rumah jaman sekarang, apalagi di komplek perumahan elit, semua pake kompor gas. Bahkan ada istilah dapur bersih segala.

Oya .. aku jadi ingat salah satu foto dari blogger yang sekarang seperti-nya sudah menghilang .. karena di rumah cuma ada kompor gas saja sementara gas elpiji-nya sudah habis … maka kompor gas tersebut perlu di modifikasi sedikit agar bisa dipakai untuk menggunakan bahan bakar kayu atau arang. Gimana menurut teman-teman?? boleh juga kan idenya??

Dan terhitung mulai 10 April 2008, PT Pertamina menurunkan harga elpiji dalam kemasan tabung 50 kilogram sebesar 15 persen atau dari Rp 7.525 per kg menjadi Rp 6.805 per kg. Harga tersebut adalah harga di tingkat konsumen. Demikian cuplikan dari Kompas hari ini. Harga keekonomian elpiji saat ini sekitar Rp 10.000 per kg. Penyesuaian harga mendekati keekonomian untuk menekan kerugian.

Pertamina mengklaim tahun ini mereka harus menanggung rugi sebesar Rp 5,4 triliun dari bisnis elpiji. Konsumsi elpiji nasional mencapai 1,1 juta ton per tahun. Konsumen elpiji terbagi atas sektor rumah tangga (70 persen), industri (17 persen), dan bisnis (13 persen). Jumlah konsumen bisnis sekitar 150.000 pelanggan yang mayoritas terdiri atas mal, hotel, restoran, dan rumah sakit.

Iklan