blok.jpg

Matahari baru muncul di ufuk barat menyinari bumi negeri antah berantah yang kemarin barusan diguyur hujan lebat semalaman. Sinar matahari yang hangat seakan-akan memberikan harapan baru bagi negeri tersebut. Walaupun matahari itu terbit disisi yang tidak lazim, rakyat negeri tersebut tetap saja merayakannya dengan gegap gempita dan mengharapkan sang matahari dapat menuntaskan genangan air akibat hujan semalaman.

Belum satu jam sinar matahari memanggang bumi, rakyat negeri antah berantah itu mulai merasa gerah. Satu persatu pakaian lengkap mereka tanggalkan. Air akibat hujan semalaman perlahan mulai surut. Sebagian rakyat mulai membenah rumah mereka. Menata ulang keporakporandaan.

Dua jam kemudian berlalu, satu dua penduduk mulai merasa perut mereka keroncongan. Menyusul satu dua penduduk lainnya. Dan dalam sekejap sebagian besar rakyat negeri antah berantah itu merasa kelaparan. Sisa makanan yang tidak tersapu air hujan dan air sungai yang meluap tidak mampu memenuhi perut-perut kosong mereka.

Mulai terdengar satu dua orang berteriak. Menyalahkan matahari. Menyalahkan hujan. Menyalahkan semua yang bisa dapat disalahkan. Mereka ingin segera. Mereka ingin keajaiban. Mereka tidak peduli apa artinya rahmat air hujan. Apa artinya sinar matahari. Karena mereka lapar. Karena mereka hanya ingin hidup. Satu dua orang terus bertembah. Hingga akhirnya hampir semua penduduk berteriak.

Bosan teriak, karena tidak ada yang mendengar. Mereka kemudian berkumpul. Menyingsingkan lengan baju. Bukan, bukan untuk bekerja .. bukan untuk memperbaiki tempat tinggal mereka yang hancur karena air hujan semalaman. Tapi mereka unjuk kekuatan. Mereka merasa mereka bisa mengatur negeri ini. Satu kumpulan beranak pinak jadi beribu kumpulan. Saling dorong. Saling injak. Dan akhirnya negeri antah berantah itu berubah menjadi negeri chaos.

Iklan