blok.jpg

Pernah bertemu dengan seseorang yang sudah berumur, tapi sering ngambek atau merajuk atau pundung?? Atau mempunyai atasan yang suka menyalahkan anak buahnya?? Atau seorang teman — yang kemana-mana — selalu ditemani oleh orang tuanya?? .. kalo ada atau pernah tahu, pasti kita berkomentar — dalam hati atau mengatakan langsung — bahwa orang tersebut childish banget atau ke-kanak-kanakan. Pertanyaannya adalah, mengapa sikap dewasa atau matang tidak sejalan dengan bertambahnya usia seseorang?

Bagi kebanyakan orang, kematangan ditandai dengan kedewasaan yang diindikasikan dengan keberanian untuk memasuki jenjang perkawinan, mempunyai penghasilan sendiri serta lepas dari bimbingan orang tua.

Namun — terutama — dalam situasi yang menekan, kritis dan berisiko, kita sendiri kemudian dapat meyadari atau menyaksikan bahwa respon individu sering menunjukkan ketidakdewasakan. Seperti yang aku ilustrasikan diawal postingan.

Apakah tingginya pendidikan dan kepintaran seseorang berkorelasi dengan kematangan pribadi, terutama kalau individu mengembangkan fungsi-fungsi di dalamnya dirinya secara berat sebelah? .. memang patut kita pertanyakan.

Dalam skala makro, ketidakmatangan seseorang sering terlihat pada ketidakberanian untuk mengambil keputusan, memaksakan pendapat, meng-‘abuse’ kekuasaan, serta ketidakmampuan membina hubungan antara manusia secara fair dan bertanggungjawab.

Menurut Eileen Rachman dan Sylvina Savitri dari Experd di harian Kompas edisi Sabtu 10 Mei 2008, dikatakan bahwa untuk mendefinisikan ‘maturitas’ atau ‘kematangan’ pribadi seseorang dapat dideskripsikan dalam lima persyaratan yaitu :
1. Berpikir objektif,
2. Berpikir positif,
3. Mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi,
4. Bertanggung jawab,
5. Mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relatif panjang.

Bagaimana dengan kamu? apakah deskripsi diatas ada pada dirimu?

Iklan