blok.jpg

Pagi itu, aku tidak pergi ke kantor seperti biasanya .. tapi ke bandara Supadio Pontianak karena mau berangkat ke Jakarta. Besok — 15 Mei 1998 — aku akan mengikuti test TPA dan TOEFL yang diadakan oleh kantor pusat tempat ku bekerja. Tidak ada firasat apapun, ketika aku memilih first flight pagi itu. Hanya cuma satu alasan, supaya aku bisa tiba lebih awal dan memiliki waktu yang cukup untuk istirahat supaya keesokan harinya, stamina ku fit untuk mengikuti test.

Aku tiba di bandara Supadio tepat waktu. Setelah cek-in, aku menunggu sejenak diruang tunggu bandara untuk kemudian boarding, masuk ke badan pesawat Fokker 28. Penerbangan dari Pontianak ke Jakarta ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menit. Pagi itu, cuaca cerah .. penerbangan pun berlangsung lancar dan aman.

Mengingat acaranya cuma satu hari, aku cuma membawa travel bag berukuran kecil sehingga tidak perlu aku masukan ke bagasi pesawat. Begitu pesawat mendarat di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng .. aku bergegas turun dan langsung menuju pintu keluar tanpa perlu antri lagi menunggu bagasi seperti penumpang lainnya.

Begitu keluar dari pintu bandara .. aku merasa kan ‘kesenyapan’ yang tidak biasa. Aku cuma berpikir : “Ah, mungkin masih pagi” karena waktu masih sekitar jam 09:00 WIB dan aku merupakan penumpang pertama yang keluar dari balik pintu bandara.

Aku tidak perlu menunggu terlalu lama di bandara, karena sebuah taxi sudah menanti. Tanpa buang waktu, aku langsung masuk ke dalam taxi .. “Ke Slipi pak” kata ku pada pak supir dan beliau langsung tancap gas.

Pagi itu, suasana tol bandara tidak serame biasanya sehingga hanya dalam waktu singkat aku sudah keluar pintu tol Kapuk. Taxi kemudian mengambil jalur menanjak ke Pluit interchange. Astagfirullah .. dari ketinggian interchange tersebut, aku melihat — dipusat kota Jakarta — asap hitam dan tebal membumbung tinggi menghiasi angkasa.

Aku bertanya pada pak supir taxi, apakah peristiwa dua hari yang lalu dan kemarin masih berlanjut. Pak supir kemudian menginformasikan bahwa dibeberapa tempat, massa sudah mulai membakar bangunan. Ketika aku melewati Plaza Slipi Jaya, suasana didepannya adem ayem seperti tidak terjadi apa-apa dan lalu lintas lancar.

Menurut pak supir, bahwa massa masih terkonsentrasi di daerah kota, sehingga beberapa daerah Jakarta masih kondusif. Akhirnya sekitar jam 09:45 WIB aku tiba di Wisma Slipi, tempat peserta test menginap.

Setelah cek in, aku tanya ke bagian resepsionis, apakah peserta dari daerah lain sudah datang. Ternyata, aku adalah peserta pertama yang tiba di penginapan.

Setelah istirahat sebentar di kamar .. aku turun ke lobby, disitu suasana terlihat tegang. Sudah ada beberapa orang berkumpul di lobby. Aku segera bergabung. Baru aku ketahui, bahwa beberapa peserta sudah menghubungi wisma bahwa mereka tidak bisa keluar dari bandara karena jalanan terblokir.

Salah satu peserta yang baru tiba di wisma mengisahkan bahwa dia bisa tiba di wisma tak lama setelah aku. Peserta yang pesawatnya mendarat sekitar jam 10:00 WIB dapat dipastikan tidak dapat menembus barikade menuju kota. Masa sudah mulai ramai di depan wisma.

Makan siang saat itu berlangsung mencekam .. kami saling tukar menukar informasi karena masih banyak peserta yang tertahan di bandara. Sore hari, ketika aku sedang di balkon lantai 12, aku melihat asap hitam sudah mulai merata di beberapa titik kota Jakarta. Dan menjelang maghrib aku dapat kabar kalo Plaza Slipi Jaya — yang tadi pagi baru aku lewati — sudah terbakar.

Malam hari, suasana di wisma makin tak menentukan. Beberapa peserta yang semula tertahan di bandara, sudah ada yang tiba setelah mereka nekat menggunakan ojek motor, walaupun harus membayar sekitar Rp.200 ribu – Rp.250 ribu. Dan akhirnya, perusahaan memutuskan untuk menunda pelaksanaan test esok hari.

blok.jpg

Tanggal 14 Mei 2008, juga merupakan peringatan 60 tahun Hari Nakba atau ”hari bencana”, yakni percerai-beraian dan pengusiran warga Palestina dari tempat tinggal mereka setelah pecah perang Palestina tahun 1948. Inilah awal penjajahan Israel di tanah Palestina. Sementara bagi Israel, perang itu dianggap sebagai perang kemerdekaan yang menjadi awal berdirinya negara Israel.

UPDATE !!! 15 Mei 2008

B Herry Priyono Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta mengatakan pada tulisannya di Kompas edisi hari ini bahwa sangatlah ganjil ledakan kekerasan dalam skala kolosal seperti Mei 1998 terjadi pada waktu yang bersamaan.

Kekerasan berskala kolosal yang terjadi pada waktu bersamaan di seluruh Jakarta pun sudah amat sangat ganjil. Apalagi kekerasan tersebut meledak pada waktu bersamaan dalam skala seluas Jabotabek dan kota-kota lain. Istilah ”pada waktu bersamaan” merupakan kunci.

UPDATE !!! 16 Mei 2008

Beda lagi dengan tanggapan Minah — seorang buruh cuci — tentang reformasi ”Repormasi apaan, sik? Saya enggak ngerti,” kata wanita paruh baya tersebut. Jawaban itu ia berikan begitu saja saat mendapat pertanyaan tentang reformasi. Ia bahkan sama sekali tidak memiliki referensi tentang kosakata tersebut. Apalagi makna reformasi.

Baginya, tak ada perbedaan antara kehidupan sebelum dan setelah 10 tahun terakhir. Dalam arti, kondisi kehidupan tidak membaik. Yang ia rasakan saat ini justru perjuangan hidup menjadi lebih sulit. Penghasilannya sebagai buruh cuci sebesar Rp 750.000 sebulan tak banyak memberi arti.

Iklan