blok.jpg

Begitulah .. ketika kemarin malam, aku menyaksikan bagaimana televisi Amerika menyajikan sebuah hiburan yang berbeda saat dua kontestan terakhir American Idol dipertemukan di Nokia Theatre LA. Sama-sama bernama depan David … sehingga dirancang story board seperti mempertemukan dua orang petinju lengkap dengan ulasan dari pakar tinjunya. Cool. 😎

Dan tadi pagi, aku telah mengetahui hasil voting pemirsa Amerika dari Yahoo, yang ternyata memiliki pilihan berbeda dengan Simon Cowell dimana pada pertarungan kemaren malam, Simon memberikan nilai mutlak pada David, yang digambarkan oleh Simon telah meng-KO lawannya. Sementara, pemirsa Amerika lebih memilih David yang lain untuk menyandang predikat New American Idol, dengan perbedaan suara yang cukup tajam dengan David jagoan Simon.

Apapun .. pada akhirnya, David juga yang menang 🙂

Sebagai informasi, jumlah pemilih AI musim ke tujuh memecahkan rekor yaitu 97,5 juta pemilih dimana 56% untuk David dan 44% sisanya untuk David juga 🙂 .. dan Simon Cowell buru-buru minta maaf ke David 56% : “I will take this opportunity to apologize because I think I was verging on disrespectful with you. I don’t think you deserved that.”

Bagaimana dengan idol di Indonesia? .. jujur, aku ogah nontonnya. Bukan karena kualitas penyanyi-nya atau juri-nya yang asal. Tapi karena kemasan acaranya — buat ku — kurang greget. Apalagi kalo pas mau mengumumkan pemenangnya .. wasting time banget .. lamaaaaaaaa, sampe ngantuk deh.

Beda banget dengan American Idol .. host-nya begitu ‘cerdas’ untuk mengisi waktu dan tidak perlu pake’ teriak-teriak kaya’ disini. Entah mengapa .. melihat AI itu lebih adem dan tenang dibanding dengan II yang terasa hiruk pikuk dan crowded. Ya, entah mengapa?

Saya jadi ingat tulisan Garin Nugroho di Kompas edisi 17 Mei 2008 lalu, yang mengutip komentar seorang guru dalam sebuah diskusi tentang televisi.

”Lihat sepuluh besar American Idol, David, Carly, hingga Syesha. Baju dan tampilannya bersahaja, bahkan pembawa acaranya tidak seronok dan mewah, namun kualitas profesionalnya luar biasa. Mereka paham, siapa yang bintang, siapa pemandu, dan bagaimana menjuri secara efektif serta berkarakter.”

Mungkin begitu lah kondisi dunia pertelevisian Indonesia .. isinya hinggar binggar tanpa jelas mau ngapain .. hehehe cape deee 🙂

Iklan