blok.jpg

Baru kali ini aku tertegun ketika membaca kolom konsultasi di Kompas Minggu yang diasuh oleh bunda Leila Ch Budiman — seorang psikolog — yang sudah ku baca sejak aku masih remaja. Pada Minggu ini, bunda katakan bahwa tanggal 29 Juni 2008 adalah kali terakhir bunda akan mengasuh rubrik tersebut, sebab bunda merasa sudah saatnya untuk eksit setelah nyaris 25 tahun jadi penjaga gawang kolom ini. Aku sedih membaca salam perpisahan tersebut .. tapi, kali ini topik yang dimuat di kolom itu tentang orang² yang berhasil mengatasinya masalahnya dengan baik. Dan ada dua kata yang begitu mengesankan buatku dari pembaca bunda yaitu .. MENGEJAR ANGIN ..

Sembilan tahun saya menikah tanpa dikaruniai anak. Disibukkan usaha mendapatkan anak, dari dokter ahli kandungan sampai dukun dan tusuk jarum. Semua mengatakan tidak ada kelainan pada saya, tapi si kecil tak kunjung muncul.

Usaha kami yang tidak habis-habisnya ini menghabiskan banyak biaya dan waktu. Tekanan dari sekeliling membuat kami seolah-olah mengejar angin.

Dalam kesibukan mengejar angin itu, tanpa sadar ini telah merusak hubungan kami sendiri, komunikasi jadi semakin amburadul. Akhirnya, mungkin suami tidak tahan, dia meninggalkan saya.

Padahal, dalam usaha mengejar angin itu saya telah melepaskan karier saya yang bagus. Hal ini saya lakukan karena banyak tekanan mengatakan, ”Itu karena kamu kecapaian”. Jadi, sudah kehilangan pekerjaan, kehilangan suami dan berstatus janda, berstatus warga negara kelas dua pula.

Kiasan kata mengejar angin tersebut, sangat berkesan buat ku. Karena, aku sering terjebak ke dalam masalah yang sama, yaitu mengejar angin. Dulu .. ketika masih remaja, waktu ku habis untuk berorganisasi .. mulai di bidang seni sampai di bidang advokasi lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Apakah salah aku mengejar angin ? .. rasa²nya, tidak juga .. jika aku bercermin dari cerita diatas, ada pesan moral yang bisa ku petik. Yaitu, ketika aku ingin mencapai sesuatu dengan mengorbankan banyak hal dan ternyata hasilnya nihil .. itu seperti mengejar angin.

So .. jika berhasil ? bagaimana ? .. aku justru ragu. Ketika aku berhasil setelah banyak pengorbanan, apakah setimpal dengan yang ku korbankan ? biasanya yang pertama jadi korban selalu orang² terdekat seperti anak, istri dan orang tua.

Subhanallah .. kisah di kolom bunda Leila, begitu ‘menampar’ ku .. apa yang aku kejar dengan ngeblog setiap hari ? apa yang aku kejar dengan berada di kantor hingga larut malam ? apa yang aku kejar dengan karir yang terus menanjak ? apa yang ku kejar dengan ibadah kurang dari 2 menit ? apa yang ku kejar dengan segala yang ku punya ? apa yang sebenarnya ku kejar …

*ku berlari dan terus berlari *
*mengejar ridho Allah*

Iklan