blok.jpg

Kata dosen mata kuliah manajemen ku dulu, konflik itu perlu. Dengan adanya konflik, kita menjadi lebih siap dengan segala kemungkinan. Jika merujuk pada kamus besar bahasa Indonesia kata kon·flik [n] berarti percekcokan; perselisihan; pertentangan. Dan dalam sidang terbuka promosi doktor antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia lima hari yang lalu, Prudensius Maring menyatakan bahwa pikiran orang Indonesia dikuasi oleh budaya konflik. Kita lebih tahu cara, teknik, dan strategi berkonflik ketimbang cara dan strategi berkolaborasi atau bekerja sama dengan pihak lain.

Yang menarik bagi ku dari statement di atas adalah orang Indonesia dianggap tidak begitu tahu tentang berkolaborasi atau bekerja sama .. hmmm, bukankah bangsa ini terkenal dengan semangat kegotong-royongannya ? tapi, apakah itu telah menjadi bagian sejarah .. ketika kapitalisme menggantikan norma bagi bangsa ini ?

Atau mungkin karena penelitian pak Maring hanya di kawasan hutan Gunung Egon, Flores sehingga kesimpulan setempat digunakan untuk men-generalisasi budaya bangsa ini. Atau boleh jadi teori kekuasaan Michael Foucault yang digunakan pak Maring yang membuat beliau mengambil kesimpulan seperti itu ?

Apa pun .. faktanya, sulit bagi bangsa ini — saat ini — untuk berkolaborasi membentuk sedikit partai. Buktinya untuk pemilu 2009 nanti terdapat 34 partai peserta. Jangan² sinyalement pak Maring benar adanya 🙂 atau teman² ada pendapat lain ?

Iklan