blok.jpg

LOGOSPEDDYBLOGGER.gif Apa yang masih tersisa dari bangsa ini? Ketika kata proklamasi diucapkan oleh bapak bangsa – pada enam puluh tiga tahun yang lalu – kita seakan-akan merasa sudah berhak menentukan nasib bangsa ini. Dan pada saat itu, kita semua sepakat bahwa kita ingin membawa bangsa ini menjadi sebuah negara yang adil dan makmur. Cita-cita tersebut rasanya tidak terlalu berlebihan mengingat modal yang dimiliki bangsa ini sangat besar yaitu berupa kekayaan alam.

Hitung saja, berapa kekayaan alam Indonesia baik yang ada di dalam bumi, diatas bumi berikut sungai dan lautan yang terbentang luas seperti tiada batas. Pada saat proklamasi diucapkan, tidak ada keraguan sedikitpun bagi bangsa ini untuk menjadi sebuah negara yang disegani sehingga pada saat itu, negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia (yang dulu masih merupakan satu kesatuan dengan Malaya) menjadi tidak ada artinya buat negeri ini.

Bahkan kita dengan nada mengejek, bahwa Singapura dapat kita tenggelamkan hanya dengan menyuruh seluruh rakyat Indonesia membuang hajat kecil di Singapura. Dan kita juga dengan pongahnya menyerukan untuk menggayang Malaysia jika negara tersebut berani berbuat aneh-aneh terhadap bangsa ini.

Tidak ada keraguan. Tidak ada syak wasangka. Karena kita percaya, bahwa bumi pertiwi ini kaya raya yang bisa menjadi modal buat bangsa ini untuk menjadi negara yang makmur seperti Amerika Serikat. Semua sepertinya akan lancar-lancar saja.

Tapi saat ini, apa yang ku saksikan, ku rasakan, ku alami sangat jauh dari cita-cita founding father kita tersebut. Bagaimana bisa dikatakan makmur, jika untuk memenuhi daya listrik saja kita tidak mampu. Belum lagi ketersediaan air minum dan pangan. Bagaimana bisa dikatakan bisa adil, jika masih banyak orang kecil yang antri menuntut keadilan.

Ada apa ini? Mengapa 63 tahun tidak cukup buat bangsa ini untuk adil dan makmur? Berapa lama lagi waktu yang diperlukan negara ini? 100 tahun, 200 tahun atau 1.000 tahun lagi? Apakah memang harus begitu lama? Bagaimana dengan negara-negara seperti Malaysia, Singapura dan Hong Kong – yang nota benenya merdeka setelah negara ini – bisa lebih makmur?

Pasti jawabannya mudah ditebak. Karena negara-negara tersebut penduduknya tidak sebanyak Indonesia. Karena negara-negara tersebut tidak seluas Indonesia. Karena negara-negara tersebut dijajah oleh Inggris. So what gitu loh. Apakah kita lupa, kalo negara-negara itu tidak memiliki kekayaan alam sebanyak di Indonesia.

Jika memang rakyat kita lebih banyak, bukan kah kekayaan alamnya juga banyak? Jika memang negara ini luas, bukan kah dengan tanah air yang luas kita bisa memanfaatkan sepuas kita sehingga tidak perlu menguruk laut atau membuat pulau buatan seperti negara-negara yang kekurangan tanah atau pulau.

Kita juga tidak perlu mencuri ikan di negara lain seperti negara lain yang kekurangan lautan untuk dipanen hasil ikannya.

Yang ada saat ini, negara ini seperti sudah bukan milik cita-cita bangsa ini. Lihat siapa pemilik bank-bank di tanah air, siapa yang memiliki jasa telekomunikasi, pertambangan, pulau-pulau dan sebagainya. Secara kuantitas (jumlah perusahaan yang masuk ke Indonesia) mereka boleh kecil tapi secara kualitas, modal yang mereka tanamkan sangat besar sehingga mempengaruhi keputusan yang diambil.

Kemakmuran hanya milik pemilik modal bukan rakyat yang memiliki negeri ini. Keadilan – boleh jadi – pun tidak memihak pada rakyat yang berdarah pertiwi sang burung garuda. Semua dilakukan atas nama menarik modal dari luar negeri karena kita tidak punya uang untuk membangun negeri.

Aku jadi teringat kisah petani di sebuah kampung. Karena ketiadaan modal, akhirnya dia meminjam uang dengan tengkulak. Ujung² dapat melunaskan pinjamannya, yang ada malah tanah sawah yang tadi miliknya jadi tergadaikan untuk membayar hutang.

Indonesia adalah kampung yang besar. Tapi berpikir ingin menjadi negara seperti Amerika. Kita lupa, budaya bangsa ini berbeda. Indonesia adalah Indonesia. Indonesia bukan Amerika, Singapura atau apa pun juga. Indonesia adalah negara yang ramah. Saling mengenal satu sama lainnya.

Indonesia adalah negara yang berketuhanan. Bukan negara yang semau akal dan nalar manusia. Sehingga segala cara dihalalkan demi kepuasan akal dan nalar. Segala yang pribadi diumbar kemuka publik demi kebebasan berekspresi walaupun itu melukai nilai-nilai agama.

Indonesia adalah negara kemanusiaan. Bukan untuk diperbudak tidak juga untuk dihina dina. Kita berteriak soal hak asasi manusia. Tapi membiarkan ‘perbudakan’ terus berjalan. Menuntut hak dengan cara yang tidak beradab. Membakar, menjarah, merusak dan sebagainya seakan-akan kembali sebelum zaman beradaban.

Indonesia adalah negara persatuan. Jika sudah terpecah belah, apakah masih yakin akan adanya negara yang bernama Indonesia. Jika semua ingin berdiri sendiri, memerintah sendiri, mengatur sendiri, buat apa negara ini diperjuangkan persatuannya. Justru harus diperjuangkan jangan sampai kita terpecah belah.

Indonesia adalah kerakyatan. Bukan negara segelintir orang pintar, orang kaya dan orang hebat. Tapi negara milik rakyat. Orang pintar, kaya dan hebat dilahirkan dinegeri ini untuk memimpin rakyat bangsa ini bukan untuk ditindas tapi untuk dihidupi. Tidak karena sebagai pemimpin maka rakyat harus mengikuti kata pemimpin. Tapi harus dibicarakan bersama, bukan tentang seseorang tapi tentang bangsa ini.

Indonesia adalah sosial. Tidak berarti sama rasa sama rata. Tidak berarti yang kaya semakin kaya. Justru karena Allah memberikan perbedaan, maka kita diuji untuk saling berbagi. Hidup tidak selamanya melulu menyangkut materi, tapi juga ibadah. Semua yang kita miliki adalah titipan Allah maka sudah selayaknya titipan itu kita gunakan untuk menolong orang lain.

Aku ingin meminta kembali Indonesia ku .. bukan Amerika, bukan Eropa, bukan Singapura, bukan China, bukan yang lainnya. Aku hanya ingin Indonesia ku. Yang beragama, beradab, saling menolong, dirundingkan dalam semangat bersatu untuk memajukan negara ini sebagai kampung halaman ketika kita mati kelak.

blok.jpg

UPDATE !! 26 Agustus 2008

Pertanyaanku diatas : “Berapa lama lagi waktu yang diperlukan negara ini?” telah dijawab oleh Harry G Harris, Visiting Professor at The University of California and President of HealtCare California and MedSupply dalam diskusi bertema “Globalisasi dan Enterpreunership” bersama HIPMI di Jakarta, Senin (25/8) dalam berita di Kompas.com.

Beliau mengatakan bahwa Indonesia setidaknya membutuhkan waktu sekitar 30 tahun agar bisa menyamai perekonomian negara raksasa Asia, China. “China telah memulai sekitar 30 tahun lalu untuk bisa mewujudkan perekonomian seperti sekarang ini. Indonesia memang bangsa yang besar tapi diperlukan komitmen yang besar dari Pemerintah untuk memberi ruang kepada pengusaha terutama pengusaha muda menggerakkan perekonomian lebih baik lagi,” kata Harry G Harris.

Tapi apa iya .. cukup 30 tahun? karena China berbeda dengan Indonesia. Di China tidak ada demokrasi seperti disini. Sehingga disini, banyak waktu terbuang untuk lobby, konsolidasi, meredakan amuk massa .. untuk pilkada aja, berapa lama seorang bupati dan gubernur belum bisa dilantik gara² tuntut menuntut. Capee dee …

Jadi gimana bisa mau menata perekonomian, jika pemerintahnya belum terbentuk dan solid. Kalo Indonesia seperti di China .. wah, aku malah kawatir nanti blog banyak di banded. Banyak media massa yang dibredel. Hmmm .. gpp deh lebih dari 30 tahun … kan bangsa kita adalah bangsa penyabar :mrgreen: .. ga masalah toh soal waktu 🙂

Iklan