blok.jpg

Pesta akbar olah raga sedunia, kemaren malam usai sudah. Sayangnya aku gagal menyaksikan moment tersebut karena saluran Indosiar Indovision *thanks buat Wi yang sudah mengoreksi* tidak memiliki hak siaran dari TVRI. Sementara, saluran TVRI ditempat ku tidak dapat tertangkap dengan baik. Akhirnya .. kemaren malam aku terbenam dalam tulisan² yang ada di koran dan majalah sambil memikirkan tentang arti kemenangan mengingat posisi Amerika tergeser oleh China sebagai juara umum dan Indonesia berada dibawah Thailand dalam perolehan medali.

Aku jadi teringat pada tulisan mbak Eileen Rachman dan Sylvia Savitri dari Experd yang berkisah tentang ‘Berjiwa Pemenang’ di Kompas edisi Sabtu, 23 Agustus 2008 kemaren dimana ada seorang anak yang selalu ‘dimenangkan’ oleh orang tuanya. Dan kebetulan, jarang sekali menghadapi kegagalan — baik dalam pendidikan, berorganisasi dan aspek kehidupan lainnya. Keadaan menang terus-menerus ini menyebabkan si anak menjadi tidak akrab dengan kekalahan.

Trus .. apa yang salah dengan menang terus menerus? bukannya semua orang ingin jadi pemenang? bukan kah semua orang tua berharap anaknya menjadi juara? .. bukankah dalam kehidupan kita diajarkan untuk menang dan tidak ada tempat buat pecundang?

Hal inilah .. menurut mbak² tersebut mengakibatkan sikap si anak [kita] jadi tidak mau menghadapi kekalahan, apapun aturan dan konsekuensinya, alias ‘tidak mau kalah atau mengalah’. Pokoknya™ menang. Segala cara harus ditempuh untuk mempertahankan posisi pemenangnya — halal haram nomor sekian .. kira² begitu deh.

Lagi, menurut mbak yang bekerja di Experd tersebut .. orang yang berusaha menang secara obsesif semata untuk mendapatkan penghargaan, menghindari rasa malu, biasanya tidak bisa mengatur energi. Sehingga dalam situasi kalah, anak [kita] tersebut tidak siap untuk kalah bahkan (sering) menunjukkan kemarahan.

Walah .. bagaimana kalo kekalahan kita akibat kecurangan orang lain? apakah kita tetap pasrah. Seperti ketika kita mempertahankan kemerdekaan, yang kemudian dirampas oleh orang lain atas nama demokrasi atau kapitalisasi? .. ga gampang memang untuk menang dengan fair. Sehingga saat ini sering kita lihat parade gontok²an politisi merebut partai, atau hasil pilkada.

Mungkin masih perlu waktu lagi untuk belajar menjadi pemenang sejati. Tidak saja asal menang. Pokoke™ menang.

Iklan