blok.jpg

Setelah aku berwudhu dan berbalik menuju masjid, dihadapan ku berdiri seorang tua dengan jenggot panjang yang sudah memutih. Pakaian yang dikenakan seperti gamis, memanjang sampai kebawah dan berwarna putih bersih. Begitu kontras dengan pekatnya malam. Pak tua itu tersenyum pada ku sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Segera ku jabat tangan orang misterus itu. “Assalamu’alaikum” sapanya. “Wa’alaikumsalam” jawabku. “Mau tarawih ya nak?” tanya beliau lebih lanjut. “Iya pak .. bapak juga?” tanyaku kembali.

Beliau mengangguk dan kemudian berlalu menuju tempat wudhu. Aku pun bergegas masuk ke dalam masjid. Usai sholat tarawih dan witir, aku buru² pulang karena masih ada pekerjaan yang harus ku tuntaskan malam ini. Dalam perjalanan pulang, aku bertemu kembali dengan bapak tua itu .. hm, lebih tepatnya kakek. Sambil berjalan, kami pun berbincang.

“Nak .. sebenarnya buat apa sih anak berpuasa?” sebuah pertanyaan yang mengagetkan buatku karena baru pertama kali ditanyakan langsung kepada ku .. karena selama ini, pertanyaan itu selalu datang dari seorang anak kecil yang justru bertanya pada bapaknya seperti pada lagu Bimbo? .. aku pun jadi teringat pada lagu itu :

Ada anak bertanya pada bapaknya,
buat apa berlapar-lapar puasa,
ada anak bertanya pada bapaknya,
tadarus tarawih apalah gunanya.

Lapar mengajarmu rendah hati selalu,
tadarus artinya memahami kitab suci,
tarawih mendekatkan diri pada Ilahi.

Lihat langit keanggunan yang indah,
membuka luas dan anginpun semerbak,
nafsu angkara terbelenggu dan lemah,
ulah ibadah dalam ikhlas sedekah.

Ah .. apakah memang begitu? .. bukankah, sejak kecil aku menyaksikan bahwa setelah selesai puasa, orang² malah berlomba² untuk memakai pakaian² baru. Merias rumah menjadi terlihat indah. Menyajikan makanan beraneka rupa? dan aksi² jor-joran lainnya .. kemana perginya rendah hati tersebut? seperti hilang ditelan sang waktu.

Kalo memang puasa hanya sekedar menjalankan ibadah. Melarang orang lain menganggu orang yang sedang ibadah puasa. Produktivitas sedikit menurun dari hari² kerja diluar bulan ramadan? … jadi apa dampak positif-nya bagi orang menjalani puasa selain menahan lapar dan haus?

Pertanyaan sang kakek benar² menohok ku .. ga mungkin Allah menyuruh umat-Nya yang beriman untuk berpuasa kalau hanya sekedar menahan lapar dan haus. Oke .. katakanlah beribadah full sebulan penuh. Cukup kah hanya itu? apakah puasa di bulan ramadan hanya soal menahan lapar, menahan haus, menahan napsu dan beribadah.

Apakah diluar bulan ramadan, kita boleh berkehendak bebas? .. apa yang sebenarnya disisakan dari bulan ramadahn untuk menjalani sisa² bulan selanjutnya?

Sepanjang jalan aku hanya bisa diam memikirkan pertanyaan sang kakek. Selama ini, banyak ‘kata² bijak’ yang ku dengar tentang puasa. Semuanya serba normatif tapi aku tidak menemukan akarnya kecuali hanya untuk beribadah dan menahan segala godaan.

Ya Allah .. Kau turunkan bulan ramadan, pasti bukan hanya untuk ‘sekedar’ mencuci dosa² sebelumnya. Kau perintahkan berpuasa di bulan ramadan, pasti bukan hanya untuk sekedar hura² makanya Engkau hanya memerintahkan buat umat-Mu yang bertaqwa saja.

Aku yakin .. Engkau merahmati bulan² lainnya seperti bulan ramadan. Hanya saja, Engkau inginkan pada bulan ini, umat-Mu untuk lebih fokus beribadah pada mu seperti me-review kembali ibadah² sebelumnya untuk persiapan ibadah² selanjutnya.

Subhanallah. Aku seperti tersadarkan .. dan sang kakek ternyata sudah tidak ada disampingku. Yang ada hanyalah gelap. Gelap semata. Sendirian. Seperti halnya ketika aku dilahirkan. Berada dalam kandungan yang gelap dan sendiri.

Semoga ramadan menjadi kelahiran baru buatku. Setiap tahun, aku seperti dilahirkan kembali untuk menjadi umat yang memegang amanah dari-Nya sebagai kalifah dimuka bumi.

blok.jpg

UPDATE !!! 2 September 2008

Sewaktu blogwalking di BOTD yang sebagian besar isinya tentang jadwal imsyakiah, aku tertegun dengan satu postingan yang berbeda dari trend BOTD, dimana postingan tersebut berpendapat bahwa sholat tarawih berjamaah — yang menurut sang penulis — adalah bid’ah. Jujur, baru kali ini mengetahui pendapat seperti itu. Cukup lama aku membaca postingan tersebut. Semoga rahmat bulan ramadan dapat membuka wawasan ku untuk memahami ramadan lebih dalam lagi. Amin.

Disamping itu, ada satu postingan lagi, yang dituliskan oleh seorang mu’alaf yang isinya mempertanyakan tentang ayat² yang tidak dapat dilaksanakan. Hal ini sangat menarik perhatianku terutama tentang riba, yang selama ini hanya dikenal dalam istilah kaum muslim saja.

UPDATE !! 3 September 2008

Seorang teman yang pernah nyantri di Jawa Barat berkata pada ku, bahwa pada jaman Rasulullah dulu, nabi sempat ikut tarawih berjama’ah hanya beberapa kali. Selanjutnya nabi lebih banyak tarawih sendirian. Ketika para sahabat bertanya pada nabi, mengapa Rasulullah tidak tarawih berjama’ah? dan dijawab nabi, untuk menghindari anggapan sholat tarawih itu wajib. Kisah ini — menurutku — lebih logis.

Mohon maaf, sekiranya kisah yang ku kutip dari teman ku kurang pas karena aku tidak sempat menanyakan sumbernya. Ku pikir .. biarlah ini menjadi wacana. Persis seperti kata salah satu komentator : “Artikel² seperti itu sih dibaca aja tapi ga usah dianggap serius”

Iklan