blok.jpg

Demikian kata sseeorang pada temannya yang sudah memberikan sesuatu padanya. Orang tersebut, sebelumnya memaksa temannya itu, untuk menyerahkan jatah temannya karena dia sangat memerlukan barang tersebut. Si teman yang memang pendiam dan ga suka ribut, dengan berat hati memberikan jatahnya pada orang tersebut. Apakah ikhlas atau tidak .. tentu hanya temannya itu yang tahu hal sebenarnya.

Boleh jadi kita pernah mengalami hal seperti itu. Baik sebagai ‘pelaku’ maupun ‘korban’nya. Dalam suatu kondisi, kita ‘terpaksa’ harus mengikhlaskan sesuatu. Bisa jabatan, pasangan hidup maupun rejeki. Keadaan tersebut bisa disebabkan oleh orang lain, bisa juga oleh Sang Pemilik hidup.

Banyak postingan, tulisan bahkan buku yang membahas soal ikhlas. Tapi kali ini, aku mendapat dimensi lain tentang ikhlas yang aku dengar pada saat khotbah Jum’at hari ini, di masjid Jabalussu’ada Bukit Damai Indah .. dimana sang penceramah mengelompokan ikhlas itu dalam tiga kelompok.

Ikhlas seperti seorang bedinde kepada majikannya
Seperti kita ketahui, seorang pembantu, bedinde, budak, asisten, ajudan, anak buah dan sebagainya selalu mengerjakan apapun yang diperintahkan oleh atasannya atau majikannya. Karena jika tidak mengerjakan apa yang disuruh, dapat dipastikan masa depannya akan suram :mrgreen:

Sehingga mereka akan melakukan sesuatu karena ketakutan akan sanksi yang diberikan. Ilustrasi inilah yang mengambarkan bagaimana ikhlasnya seorang manusia dilakukan karena takut akan dosa atau azab yang nanti didapat diakherat nanti.

Ikhlas seperti seorang pedagang yang mencari keuntungan
Mendapatkan keuntungan adalah philosophy seorang pedagang tentunya. Sehingga mereka akan berusaha semaksimal mungkin agar mendapatkan keuntungan yang diharapkan. Apabila ada hal yang menjanjikan keuntungan, seorang pedagang pasti akan mengambilnya.

Seperti orang berdagang. Seorang yang ikhlaspun bisa seperti pedagang karena berharapkan pahala yang dijanjikan. Sehingga apapun yang dilakukannya semata² karena akan mendapatkan keuntungan diakherat kelak.

Ikhlas seperti orang yang bersyukur
Berbeda dengan dua kelompok diatas, ikhlas yang dilakukan oleh orang yang bersyukur tidak karena takut akan ‘sanksi’ yang akan didapat atau mendapatkan ‘keuntungan’ dari perbuatannya.

Contoh manusia yang masuk dalam kelompok ini, adalah rasulullah dimana ketika istrinya bertanya mengapa beliau sholat begitu lama sehingga menyusahkan beliau sementara beliau dijanjikan masuk surga?

Sepertinya .. memang perlu banyak belajar untuk ikhlas karena wujud rasa syukur kita. Ketika kita mengajarkan ilmu kepada orang lain semata² karena mensyukuri karunia Allah yang telah memberikan kesempatan pada kita untuk bersekolah, memiliki jaringan internet dan sebagainya.

Atau ketika atasan kita, usia dan pengalamannya lebih mudah dari kita, kita tetap bersyukur dengan jabatan sekarang dan ikhlas menerima dan bekerjasama dengan atasan baru tersebut.

Bagaimana dengan sobat sekalian?

Iklan