blok.jpg

Ku pejam kan mata. Ku biarkan pikiran ku melayang jauh kemasa silam. Delapan puluh tahun yang lalu. Ketika bule-bule itu masih menjadi tuan ditanah tercinta ini — hmm, apa bedanya dengan pemilik perusahaan jaman sekarang ya? .. ketika anak bangsa hanya bisa oho aja dengan segala sabda sang bule karena merasa sebagai bangsa yang kalah pintar dari si bule itu — hmm, apa bedanya dengan mental jaman sekarang ya? .. ketika negeri ini, merasa bahasa londo lebih terpelajar dari bahasa daerah pada waktu itu — hmm, lagi² apa bedanya dengan bahasa jaman sekarang ya?

Aku berada ditahun 1928. Ketika semua masih serba sederhana. Jangankan telepon seluler, telepon engkol-pun masih sangat jarang dimiliki oleh pribumi. Jangankan televisi flat, televisi tabung bulat hitam putih aja, ga ada .. lah wong kagak ada stasiun siaran apalagi televisi berlangganan.

Pokoknya .. seratus tahun yang lalu itu beda banget. Banget. Tapi apa iya beda banget? .. kaya’nya ga banget deh *halah* .. lah, gimana ga beda. Kalo dulu, bangsa ini merasa bahwa bahasa londo lebih terpelajar dari bahasa ibu, bukankah jaman sekarang kita juga lebih bangga dan merasa hebat kalo bisa cas cis cus seperci Cinca Laura?

Kalo dulu kita mengabdi pada yang namanya kompeni — jadi ingat FS seorang teman yang mengisi profile company-nya dengan i hate company membuat bangsa terjajah dan goblok — nah, sekarang kita mengabdi pada perusahaan yang pemegang sahamnya kebanyakan dari luar negeri, terutama pada masa² Laksama Diraja menjadi menteri yang melego aset negara ke asing.

Kalo dulu kita merasa apapun yang disabdakan oleh para londo adalah kebenaran, apakah jaman sekarang tidak seperti itu, ketika kita semua mendewa²kan lulusan Havard, pemikiran² luar negeri, solusi² orang² bule sana? Kita tak memiliki rasa percaya diri yang tinggi seperti Malaysia, China ataupun Vietnam.

Jadi .. ketika aku memejamkan mata kembali ke masa seratus tahun yang lalu, aku tak merasakan perbedaan yang berarti. Hanya perbedaan phisik saja yang berbeda. Dulu tidak ada jalan layang, yang ada hanya parit yang lebar untuk mendayung sampan .. dulu tidak ada pesawat murah meriah sampai² sering tergelincir, yang ada hanya kapal phinisi yang berlayar .. dulu tidak komplek perumahan mewah yang ada cuma sawah dan ladang membentang dimana².

Yang tidak berubah hanya metal bangsa ini. Sama seperti bangsa terjajah. Makanya, aku melihat seratus tahun yang lalu, kesadaran itu sempat bangkit. Sempat dipertanyakan oleh sebagian pemuda waktu itu. Mengapa kita harus terpecah belah. Mengapa kita merasa bangga dengan daerah sendiri. Mengapa kita menggunakan bahasa berbeda².

Sementara musuh hanya satu. Londo. Jadi .. atas kesadaran itu, pemuda waktu bersumpah untuk memiliki tanah yang satu, bukan Kalimantan, Maluku, Papua dan sebagainya. Bersumpah untuk berbangsa yang satu, bukan Jawa, Melayu, Bugis dan sebagainya. Dan bersumpah untuk bebahasa yang satu, bukan Inggris, Mandarin dan bahasa daerah.

Mengapa mereka bersumpah? .. mengapa? karena pemuda itu sadar, tanpa sumpah itu, yakinlah semua akan berjalan sendiri² .. tak itu yang namanya Indonesia. Sekarang, delapan puluh tahun kemudian. Apakah kita berani mengucapkan sumpah itu lagi? setelah kita keasikan berbahasa Inggris, ketika kita sedang senang²nya memekarkan wilayah dan merasa lebih seru menjadi bangsa Amerika?

Tiba² .. ada air yang mengguyur muka ku. Aku langsung terjaga dari tidur ku. Oalamak !!! hujan deras .. alamat bakal banjir. Mesti siap² menyelamatkan barang². Aku coba ingat², sejak kapan banjir jadi senang main² kenegeri ini ya?

blok.jpg

UPDATE!!! 29 Oktober 2008

Satu pertanyaan yang menarik dilontarkan oleh M.Fadjorel Rachman seperti tulisan beliau di Kompas hari ini .. “Apa gunanya merayakan 80 tahun Sumpah Pemuda bagi 52,1 juta buruh dan satu juta keluarga nelayan yang masih menerima upah kurang dari dua dollar AS per hari, bagi 13,7 juta kepala keluarga petani dengan lahan kurang dari 0,5 hektar, bagi 9.427.600 orang penganggur terbuka?”

Dan perilaku berbahasa masyarakat selama ini pun kurang menempatkan bahasa nasional sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Rasa bangga terhadap bahasa Indonesia yang telah menempatkan bahasa itu sebagai lambang jati diri bangsa Indonesia telah menurun. Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo mengatakan bahwa : ”Masyarakat memilih penggunaan bahasa asing atau bahasa daerah yang tidak pada tempatnya,” pada peserta Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta kemarin.

Iklan