blok.jpg

Mungkin banyak orang menggunakan momentum peringatan hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 kemaren untuk membuat berbagai acara. Mulai dari yang bersifat seremoni, sampai dengan membuat iklan menyambut hari pahlawan *halah* .. dan yang cukup mengejutkan ku, ketika aku membaca berita bahwa pada acara diskusi publik bertajuk ‘Pesta Demokrasi Vs Periuk Nasi’ yang diselenggarakan Gerakan Nasional Kepedulian Sosial (GNKS) di Gedung Jakarta Media Center (JMC), Jl. Kebon Sirih Raya, Jakpus, ada pernyatan menarik dari seorang Amien Rais.

Pernyataan beliau membuatku tersentak karena selama ini tidak ada yang salah dengan mengenang jasa² orang dahulu dan memetik kata² bijak mereka sebagai pengobar semangat. Tapi karena salah satu partai menjajarkan beberapa gambar tokoh nasional yang sudah wafat dalam iklannya menyambut hari pahlawan. Mantan Ketua MPR Amien Rais menilai hal tersebut tidak perlu dilakukan, mengingat mereka semua sudah berada di alam lain.

Wah .. wah .. apakah beliau ingin dimasukan dalam barisan yang harus disebutkan mengingat beliau adalah salah satu tokoh penggerak reformasi? .. tapi, setelah aku membaca alasan beliau, aku pun jadi mahfum dengan kritikan beliau tersebut.

“Mendingan tunjukkan kepada publik bahwa mereka (partai-partai) juga mampu membangun negeri ini. Karena seperti kata pepatah Arab, yang namanya pemuda, bukan inilah bapakku inilah moyangku, tetapi inilah aku,” pungkas Mantan Ketua Umum PAN ini.

Cool 😎 .. memang sudah saatnya kita tidak terbuai dengan kisah² masa keemasan kita dulu. Aku pun teringat pada seorang teman, yang dulunya anak seorang pejabat dan kaya. Sekarang, hidupnya nestapa. Tapi setiap kali bercerita, selalu menyebut² kehebatan bapaknya dimasa lalu.

Aku sebenarnya kasihan dengan temanku itu. Dia ga bisa bediri diatas kakinya sendiri. Dia terlalu terlena dengan kehebatan orang tuanya. Dia terlalu merasa nyaman dengan kekayaan orang tuanya. Kata² pak Amien Rais tersebut benar² menyadarkan ku bahwa yang diperlukan pada saat ini adalah bagaimana kita bisa survive.

Iklan