blok.jpg

Selama dua hari terakhir, aku sering membaca dan mendengar pertanyaan seperti itu. Apakah Tuhan itu ada? atau Apakah kamu percaya bahwa Tuhan itu ada. Pertanyaan²an tersebut aku dengar pada saat Oprah bertanya pada Tom Cruise dalam suatu wawancara di televisi, apakah Tom percaya bahwa Tuhan itu ada, karena seperti kita ketahui, Tom adalah penganut Saintologi. Kemudian aku membaca dibeberapa blog yang mempertanyakan wujud Tuhan serta mencoba ‘berdebat’ tentang apakah Tuhan itu ada atau tidak.

Dan pagi ini, ketika aku membuka email kantor, ada sebuah email dari kolega yang meneruskan email dari temannya juga tentang pertanyaan seputar apakah Tuhan itu ada atau tidak. Sebenarnya .. kisah ini sudah pernah aku baca beberapa waktu yang lalu. Tapi aku lupa dimana dan tidak sempat aku dokumentasikan.

Daripada nanti ‘tercecer’ lagi .. ku putuskan untuk ku posting saja hari ini. Ya mungkin sebagian teman² sudah pernah membacanya. Tapi ga mengapa, sapa tahu untuk mengingatkan kembali tentang kisah ini.

KISAH TUKANG CUKUR DAN PELANGGANNYA

Ada seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang TUHAN. Si tukang cukur bilang, “Saya tidak percaya Tuhan itu ada”

“Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal si konsumen.

“Begini … coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan … untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada … katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, adakah orang yang sakit ?? … adakah anak terlantar ?? … jika Tuhan ada, tidak akan ada orang sakit ataupun kesusahan .. saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu, dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar, kumal, mlungker-mlungker — istilah jawa-nya, kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur tadi dan berkata, “Kamu tahu, sebenarnya Tukang cukur tidak ada.”

Si tukang cukur tidak terima, “Kamu kok bisa bilang begitu ?? … saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”

“Tidak…!!!!” elak si konsumen.

“Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika tukang cukur itu ada, maka tidak ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana,” si konsumen menambahkan.

“Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!,” sanggah si tukang cukur.

“Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya,” jawab si tukang cukur membela diri.

“Cocok!” kata si konsumen menyetujui.

“Itulah point utama-nya! .. sama dengan Tuhan, Tuhan itu juga ada .. tapi apa yang terjadi .. orang-orang tidak mau datang kepada-Nya, dan tidak mau mencari-Nya. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”

Si tukang cukur terbengong !!!!

blok.jpg

UPDATE !! 2 Desember 2008

PERUMPAMAAN DENGAN TAMPARAN

Kisah ini saya sarikan dari salah satu blog, yaitu tentang seorang pemuda yang bertanya pada seorang kyai. Disini saya persingkat dialog antara pemuda dan kyai tersebut sampai si pemuda itu mengajukan 3 pertanyaan yaitu :

1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya !
2. Kalau memang benar ada takdir, tunjukkan takdir itu pada saya !
3. Kalau syaitan diciptakan dari api … kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

Pemuda : (sambil menahan sakit) “Hei ! Kenapa anda marah kepada saya?”
Kyai : “Saya tidak marah … Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.”

Pemuda : “Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.”
Kyai : “Bagaimana rasanya tamparan saya?”
Pemuda : “Tentu saja saya merasakan sakit.”
Kyai : “Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?”
Pemuda : “Ya!”
Kyai : “Tunjukan pada saya wujud sakit itu!”
Pemuda : “Saya tidak bisa.”
Kyai : “Itulah jawaban pertanyaan pertama … kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.”

Kyai : “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”
Pemuda : “Tidak.”
Kyai : “Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?”
Pemuda : T”idak.”
Kyai : “Itulah yang dinamakan takdir.”

Kiyai : “Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”
Pemuda : “Kulit.”
Kyai : “Terbuat dari apa pipi anda?”
Pemuda : “Kulit.”
Kyai : “Bagaimana rasanya tamparan saya?”
Pemuda : “Sakit.”

Kyai : “Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang ditempatkan bersama syaitan di neraka..”

Pemuda itu langsung tertunduk dan memeluk kyai tersebut sambil memohonnya untuk mengajarkan Islam lebih banyak lagi.

PROFESOR TIDAK PUNYA OTAK

Satu lagi kisah tentang pencarian jawaban apakah Tuhan itu ada? yang saya temukan disebuah blog juga. Kali ini tentang diskusi antara seorang profesor dengan muridnya. Karena postingannya cukup panjang, saya cuplikan akhir dari cerita tersebut :

Mahasiswa itu memandang ke penjuru kelas dan dengan suara lantang bertanya pada teman-temannya, “Adakah seseorang di kelas ini yang pernah melihat otak profesor ini?”

Seluruh kelas tertawa, tapi menjadi tenang kembali.

“Adakah seseorang di kelas ini yang pernah mendengar otak profesor, mencium otak profesor, menyentuh atau merasakan otak profesor? Tidak ada yang pernah! Jadi menurut peraturan empiris yang berdasarkan pengamatan, penelitian dan observasi secara ilmu pengetahuan, saya berkesimpulan kalau profesor (maaf) tidak punya otak. Jadi kalau secara ilmu pengetahuan mengatakan bapak tidak punya otak, bagaimana kami sebagai mahasiswamu bisa percaya dengan apa yang bapak ajarkan?”

Kelas menjadi sunyi dan tegang lagi. Profesor itu hanya memandang mahasiswa itu dengan wajah yang sangat sulit ditebak.

Tulisan terkait : Apakah Allah itu ada?