blok.jpg

Topik penyerangan tentara Israel ke jalur Gaza; ramalan 2009 dan kisah akhir tahun, menjadi pembahasan menarik dijagad blogsphere .. tapi anehnya, beberapa hari belakangan ini, blog saya justru banyak dikunjungi oleh teman² yang menyari artikel tentang takdir, nasib, surga dan neraka? hmm .. ada apa gerangan? apakah karena ramalan tentang 2012 yang katanya dunia akan kiamat? ato karena idealisme telah hilang dari kehidupan? ..

Dalam beberapa komentar yang ku letak kan dibeberapa postingan teman² .. aku katakan bahwa peperangan, penyelamatan, kebajikan, kriminalitas, pertolongan, pembinasaan adalah drama kehidupan yang dilalui manusia.

Beberapa hari yang lalu, saat aku menontong film Spartacus disalah satu stasiun televisi, ada pembicaraan yang menarik antar dua orang ksatria — aku lupa nama kedua peran tersebut, yang mengatakan kira² seperti ini:

“Beruntung kita ditakdirkan untuk hidup didunia ini karena kita punya pilihan. Tuhan (dewa) memberikan kita kebebasana untuk memilih apa yang terbaik untuk kita”

Ya .. ya .. sebagian besar kita berpendapat bahwa hidup adalah pilihan. Dimana kita bisa memilih apa saja. Dan kemudian kita akan menyakini bahwa pilihan hidup itulah takdir kita yang sebenarnya. Hmmm .. apakah memang demikian.

Seperti halnya seorang memilih menjadi guru, walaupun sebenarnya enggan karena tidak punya pilihan lain? .. atau seorang yang memilih menceraikan pasangannya walaupun sebenarnya dia bisa memilih untuk tetap bertahan?

Banyak hal yang kita yakin bahwa kita telah memilih takdir kita.

Sama halnya ketika Israel memutuskan untuk menyerang Hamas di jalur Gaza. Apakah itu takdir atau bukan? .. Atau keputusan pemerintah menurunkan harga BBM dan — entah siapa — yang memutuskan untuk menghentikan supply ke konsumen. Apakah itu takdir atau bukan?

Begitu juga .. ketika aku memilih untuk nge-blog atau menghabiskan waktu dengan keluarga. Dan memilih untuk tetap diperusahaan yang sama, sementara teman² seangkatan sudah berkali² pindah perusahaan. Apakah ini takdir atau bukan?

Apapun pilihan kita, apapun takdir kita .. menurut ku — muaranya pada dua muara besar yaitu kebaikan atau keburukan. Keputusan yang diambil akan membawa dampak baik atau buruk. Sehingga, akibat dari keputusan itulah maka Sang Pencipta Manusia menyiapkan dua buah tempat untuk hasil tersebut .. surga dan neraka.

Apakah sesimple itu?

Aku hanya mengatakan kepada temanku. Apapun pilihanmu, apapun takdirmu .. kita cuma punya dua penilaian .. yaitu kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu .. jika menjadi seorang pemimpin, jadilah pemimpin yang baik.

Jika menjadi anak buah, jadilah anak buah yang baik. Jika jadi orang tua .. jadilah orang tua yang baik. Jika jadi seorang anak, jadilah anak yang baik. Jika jadi guru, jadilah guru yang baik. Jika jadi polisi, jadilah polisi yang baik. Ketika menjadi orang kaya, jadilah orang kaya baik .. bahkan ketika menjadi orang miskin, jadilah orang miskin yang baik.

Karena … Tuhan menciptakan manusia itu bermacam² — maksudnya ada yang tinggi, gemuk, difable dlsbnya — bersuku², beraneka prilaku, rejekinya dan sebagainya. Dan Tuhan tidak menilai ‘takdir’ tersebut.

Bukankah yang dinilai oleh-Nya .. untuk mendapatkan ‘point’ reward untuk ditukarkan dengan ‘tiket’ ke surga adalah kebaikan yang telah kita lakukan? .. seperti kata Mario Teguh di MetroTV minggu kemaren.

“Tuhan tidak pernah menyuruh kita malas. Kita sendirilah yang malas. Dan Tuhan tidak pernah membuat kita gagal. Kitalah yang membuat diri kita gagal”

Makanya .. agama mengajarkan kepada kebaikan. Bukan pada pilihan takdir. Karena Allah memang ‘sengaja’ menciptakan manusia itu beraneka ragam dan rejeki sudah diatur oleh-Nya. Manusia hanya diminta oleh-Nya untuk memilih kebaikan. Itu saja.