blok.jpg

Marah. Kesal. Sedih dan sejuta rasa perih setiap kali menyaksikan pembataian manusia. Tidak saja yang terjadi di jalur Gaza. Tapi dimana saja. Dimuka bumi. Baik di Afrika, Timur Tengah, Asia bahkan ditanah air sendiri. Tidak ada alasan apapun — baik agama maupun undang² — yang memperbolehkan manusia untuk membinasakan orang² yang tidak bersalah hanya karena orang tersebut berasal dari golongan minoritas, hanya karena perbedaan paham, hanya karena bukan dari kita dan alasan lainnya.

Sepertinya hidup tentram dan damai seperti hanya ada di alam sana. Di surga. Sepertinya bumi tidak layak dijadikan surga. Manusia merasa berhak atas manusia yang lainnya. Dan yang lemah atau minoritas lah selalu kalah dan mengikuti yang kuat. Jadi apa bedanya dengan hukum rimba?

Satu²nya cara untuk menghindari pembantaian tersebut adalah menciptakan perdamaian. Hidup saling berdampingan dengan aman dan damai. Apakah keinginan untuk hidup damai hanya sebuah utopia?

Untuk itu … perdamaian perlu dibangun diatas landasan yang kuat sebelum membuat pondasi. Rasanya akan sulit mewujudkan pondasi yang kuat apabila tanahnya mudah longsor.

Tanah perdamaian adalah kesepahaman bahwa perbedaan adalah rahmat. Seperti tanah, yang mengandung bermacam unsur dan mahluk hidup, ada yang menguntungkan, ada pula yang merugikan. Tapi tetap dapat hidup berdampingan.

Pondasi yang dibangun adalah kesepakatan yang mendasari terciptanya perdamaian .. misalnya memiliki Undang-Undang yang menjamin hak dan kewajiban setiap pihak untuk menjaga perdamaian.

Selanjutnya mendirikan tiang dan dinding dengan mengimplementasikan prilaku dalam menjaga perdamaian. Dan atapnya berupa solidaritas, saling menghargai, saling berkorban dan saling menjaga.

Tak mudah memang menciptakan perdamaian.