Sebenarnya males buat postingan masalah ini, tapi setelah ku pikir² aku mesti meletakkan kata disini, sebagai pengingat sang waktu di masa depan, tentang catatan pemahaman ku bagi detik² bersejarah bangsa ini yang — sapa tahu 10 atau 20 tahun kemudian — masih bisa aku baca blog ini lagi untuk melihat pemikiran ku 10 atau 20 tahun yang lalu. Sehingga ku putuskan untuk melanjutkan postingan ini karena ku pikir lebih cepat lebih baik untuk dipublish biar ga lupa nantinya.

Jika melihat konstelasi politik akhir² ini .. dinamikanya berbeda dengan Pemilu 2004 bahkan Pemilu-Pemilu sebelumnya. Disamping ada perbedaan, juga ada kesamaan. Apapun, yang pasti lima hari ke depan, kita sudah dihadapkan dengan pilihan untuk memilih satu diantara tiga.

Menariknya, susunan nomor peserta Pemilu 2009 hampir sama dengan Pemilu di jaman Orde Baru. Dimana nomor urut dua merupakan calon yang sedang berkuasa atau istilahnya incumbent dan sepertinya tetap ingin melanjutkan kekuasaannya tersebut.

Sedangkan nomor urut yang lainnya, kita masing² boleh mempersepsikannya sesuai dengan pengalaman pribadi masing² .. tapi ku pikir, nomor urut tiga menjadi kuda hitam dalam pertarungan pemilihan seperti ketika jaman orde baru.

Well .. dari berbagai quick count — ‘sang dewa baru’ jaman kini — hampir sebagian besar menonjolkan salah satu kandidat saja dan jauh² hari sudah menyakini bahwa kandidat tersebut akan menang besar !!! sampai² ada anekdot bahwa sang kandidat tersebut dapat dipasangkan dengan sapa saja .. pasti menang.

Hmm .. suatu kepercayaan diri yang tinggi !! mungkin karena sudah mendapat ‘restu’ dari ‘sang dewa baru‘ tersebut membuat sang kandidat berani memilih wakilnya dari kalangan non politik .. bahkan ‘sang dewa’ juga sudah mengeluarkan ‘petuah’ untuk satu putaran saja.

Aku jadi teringat status di Facebook salah satu teman lamaku : “Kalian akan memperebutkan kekuasaan dan ia akan menjadi penyesalan pada hari kiamat” (HR.Bukhari)

Oh my God .. begitu ‘serunya’ perebutan tersebut, sampai² ketakutan tidak dapat melanjutkan kekuasaan padahal — bukankah — seluruh survey sudah ‘menjamin’ bahwa sebagian besar (aku ga tahu apakah survey itu mewakili atau tidak) mendukungnya untuk melanjutkan kekuasaan.

Nah .. kalo sudah yakin .. mengapa harus risau dengan segala serangan ‘lawan’. Apa salahnya ada orang yang beragama non muslim dalam jajaran penguasa? Apa salahnya kandidat lain dari luar jawa? .. karena bukan kah survey sudah mengatakan cuma satu putaran?? bukankah katanya elektibilitas terpilihnya sudah 71% .. atau jangan² sang pemiliki survey ga yakin?? takut reputasinya ambruk jika meleset??

Aku menjadi prihatin jika hal itu terjadi .. bukan pertarungan hati nurani, tapi malah pertarungan para lembaga survey dan bisnis pen-citraan. Semoga bangsa ini masih punya hati nurani. Memilih bukan karena ikut²an seperti pertarungan Indonesia Idols .. yang sering kali ga peduli kualitas suaranya, yang penting menang.

Semoga Allah memberkati bangsa ini asal kita mau belajar dari kesalahan masa lalu .. menggunakan hati nurani karena ini akan mempengaruhi hidup kita lima tahun mendatang. Jika sudah mantap, pilih salah satu dari tiga. Jika belum?? ..

UPDATE !! 5 Juli 2009

Di Harian Kompas dalam rubrik Opini ada satu tulisan yang cukup menarik buat ku .. sebagian kalimatnya yang menjadi renungan ku adalah :

Kita juga harus mempertanyakan kesantunan itu sendiri, apakah itu murni ataukah sejenis eskapisme, bahkan topeng. Kita tahu, tokoh Soeharto juga amat santun, tetapi kita juga tahu apa-apa saja yang tersembunyi di baliknya. Tidak menciptakan musuh-musuh adalah bajik.

Namun, jauh lebih bajik adalah keberanian menghadapi dan menyelesaikan persoalan. Memilih posisi tertentu setiap saat adalah niscaya dalam politik, dan tiap kali kita memilih pasti ada kawan ada lawan. Politisi maupun negarawan menjadi besar justru karena kejelasan posisi-posisi serta deretan kawan-lawannya.

Tapi sepertinya .. inilah takdir bangsa ini .. rakyatnya tetap merasa ‘nyaman’ memilih pemimpin yang santun dan wibawa .. ga peduli apa kata orang. Dan baru menyadarinya setelah ‘terlanjur’ terjadi banyak peristiwa.

Tidak ada yang salah dengan pilihan itu, masalahnya adalah orang-orang disekitarnya. Bagaimana yang membuat pemimpin itu jatuh karena orang disekitarnya. Jadi ingat dengan Presiden pertama yang ‘dekat’ dengan haluan kiri. Kemudian Presiden kedua dengan anak-anak dan kroninya ..

Hmmm .. mudah2an sih, yang nanti melanjutkan tidak terjungkal gara-gara kepongahan para lingkar yang ada disekitarnya.