deklamasi Berita berpulangnya Rendra keharibaan Illahi ku tahu dari status teman² ku di Facebook. Ingatan ku terpental ke masa silam. Saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya kelas 4 SD. Pada suatu ketika, aku didapuk oleh guru ku untuk berdeklamasi untuk membacakan sajak Kerawang Bekasi karya Chairil Anwar pada acara Malam Kesenian yang setiap tahun selalu diadakan sekolah ku. Aku ingat, untuk membacakan sajak tersebut .. selama dua minggu aku mati-matian menghafal kalimat demi kalimat. Karena menurut guru ku, membaca sajak harus dihafalkan dan tidak boleh membawa catatan.

Sempat terlintas oleh ku .. mengapa harus menghafal. Mengapa tidak membaca saja. Bukankah puisi atau sajak itu bukan untuk dihafal tapi untuk dibaca dan dihayati ?? .. tapi namanya juga, aku masih kanak-kanak. Perintah guru sepertinya tidak boleh dibantah.

Jadilah pada malam keseniaan tersebut aku membacakan sajak Kerawang Bekasi dengan gaya deklamasi, formil dan menghafal 100%. Tanpa ekspresi, kecuali tanganku yang berpindah-pindah dari kanan ke kiri saja.

” … Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak .. ”

Saat turun pentas .. aku tidak merasakan apa pun. Yang penting tugas telah selesai .. dan sejak itu aku kapok kalo disuruh membaca puisi atau sajak lagi. Bagi ku terlalu melelahkan karena harus menghafal.

Sampai pada suatu ketika .. saat aku beranjak remaja dan sudah tiba di Sekolah Menengah Pertama tepatnya kelas 3 SMP. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) mengadakan perlombaan pembacaan puisi. Dan karena sampai sehari sebelum perlombaan, pesertanya masih kurang dari sepuluh orang .. aku dipaksa untuk ikut karena ada teman ku yang mengetahui bahwa waktu SD aku pernah membaca sajak.

Syukurlah .. pada waktu itu, Rendra sudah ku kenal. Om ku yang kebetulan aktif di Sanggar Teater mengenalkan dunia Teater-nya Rendra kepada ku. Aku baru memahami bahwa membaca puisi atau sajak tidak harus menghafal.

Tapi boleh membaca catatan dan bebas untuk mengekspresikan kata-kata yang ada dalam puisi tersebut. Aku terilhamkan cara Rendra pada waktu itu. Ku pikir Rendra tidak mengenal ku dan tidak tahu bahwa dia telah mengilhami ku.

Dan jadilah .. pada ketika itu .. aku membacakan sajak Cintaku Jauh Dipulau .. hmm, lagi² karya Chairil Anwar dan kali ini aku tidak menghafal dan berdeklamasi .. tapi aku bebas meng-interpretasi-kan isi puisi atau sajak tersebut.

“… Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.”

Terima kasih Rendra .. yang telah mengilhamiku dalam membaca puisi .. akan tetapi jalan hidup ku tidak membuat ku menjadi seorang seniman.

Iklan