detikdotcom Beberapa hari belakang ini, harian KOMPAS memuat serial tulisan mengenai perbatasan Indonesia. Kehidupan masyarakat ‘disana’ lebih merasa ‘nyaman’ bertetangga dengan negeri jiran, seperti Malaysia, Singapura, Philipina dan Papua. Kemudian apakah kemudian mereka tidak nasionalis apabila mereka lebih paham berbahasa negeri tetangga dari pada bahasa Indonesia, lebih nyaman berbelanja dengan mata uang Ringgit, Peso ato Dollar Singapura dari pada Rupiah. Lebih men’cintai’ produk luar dari pada produk dalam negeri. Masih pantaskah mereka dipertanyakan dengan rasa nasionalisme pada diri saudara-saudara kita yang hidup diperbatasan tersebut? .. Reportase di Kompas tersebut mudah-mudah dibaca — kalo sempat sih — sama orang² yang merasa memiliki ‘kekuasaan’ untuk merangkul saudara² kita diperbatasan sana.

Sebenarnya menjadi Indonesia itu gampang koq .. kita saja yang sering membikin ruwet masalah yang ada. Bukankah sejak dahulu kala bangsa ini berasal dari berbagai macam suku ?? berbagai macam adat istiadat ?? berbagai macam agama ??

Dahoeloe kala .. bangsa ini menyadari, bahwa dengan bergerak sendiri-sendiri, berkelompok-kelompok, rasanya sulit untuk menumbangkan perusahaan (baca : Company) yang mengangkangi ibu pertiwi selama 3 abad lebih, apabila tidak menyatukan diri dalam satu pergerakan untuk membebaskan ibu pertiwi dari si bule-bule rakus itu.

Sampailah pada kesadaran bahwa satu-satu nya jalan adalah menyatakan bahwa bagsa ini sepakat, tidak ada pulau Borneo, pulau Jawa, pulau Papua, pulau Celebes, pulau Andalas dan Nusa Tenggara .. tapi keyakinan bahwa pulau-pulau itu adalah tanah air yang berjudul Indonesia.

Dengan mengklaim bahwa pulau-pulau itu tak terpisah, maka dengan mudah bangsa ini menyatakan bahwa ini adalah tanah dan airnya Indonesia. Tapi mengapa, setelah kita punya tanah air Indonesia, 64 tahun kemudian sepertinya enggan untuk menjaganya.

Perlahan tapi pasti, keberadaan batas-batas pulau itu dipertanyakan. Direnggut satu per satu. Apakah kesadaran tentang perlunya tanah air sudah luntur. Bahwa Indonesia itu bukan Jakarta. Bahwa Indonesia itu bukan Jawa. Tapi mengapa kita tidak mensyukuri nikmat bahwa Indonesia itu adalah Entikong, Nunukan, Merauke, Nias, Natuna dan sebagainya.

Jangan salah kan, jika saudara-saudara kita yang diperbatasan sana merasa dianak tirikan. Karena kita orang Jakarta memang ‘melupakan’ mereka karena asik membangun mall, hyper market, jalan tol karena semua dilakukan karena kalkulasi untung rugi.

Ya iya lah .. lebih menguntungkan mendirikan semua fasilitas di ibukota toh .. asik toh .. enak toh .. iya toh .. dari pada harus membangun fasilitas diperbatasan sana, hanya buang-buang uang?? .. pikiran seperti macam apa itu??

Bukankah, lebih baik membangun infrastruktur dipedalaman agar menarik investor untuk menanamkan uangnya disana kalo listrik, air, telephone, jalan tersedia dengan baik. Ku pikir, sudah begitu banyak cerdik pandai di Jakarta tapi entah mengapa tetap fokus hanya di pusat pemerintahan.

Menjadi Indonesia itu mudah .. jika kita menyadari bahwa Indonesia itu memiliki tanah air tidak saja hanya Jakarta.

Menjadi Indonesia itu mudah .. jika kita mau mengakui bahwa Indonesia itu ada bukan karena kehebatan satu dua suku aja tapi karena kita semua adalah bangsa Indonesia.

Menjadi Indonesia itu mudah .. jika kita merelakan untuk membuat bahasa Indonesia lebih asik dipergunakan sehari-hari tanpa melupakan bahasa ibu dan bahasa Inggris.