Jarum jam ditanganku menunjukan angka lima dan angka tiga, pukul 17:15 ketika aku beranjak dari mejaku keluar menuju office hall yang tepat berada didepan kamar kerjaku. Sore itu, rencananya akan diadakan acara pelepasan pegawai yang mengakhiri masa kerjanya. Pekerjaan ku yang masih beberapa dokumen lagi, ku tinggalkan tergeletak diatas meja dan rencananya akan ku selesaikan usai acara pelepasan tersebut.

Aku barusan mengambil posisi didepan sambil menunggu teman² lain berkumpul ketika tiba² sebuah sentakan terjadi diikuti dengan bunyi gemuruh. Sejenak aku terpana. Sedetik kemudian aku baru sadar apa yang terjadi .. diikuti dengan langkah cepat teman² kantor menyerbu pintu keluar menuju tangga berlari kebawah.

Goncangan yang sangat keras membuat pertahanan untuk tegak berdiri mustahil dipertahankan. Dan ku putuskan untuk tidak mengikuti jejak teman² yang berlari kebawah tapi aku langsung masuk kebawah meja bundar berdiameter kira² 1 meter.

Sejurus kemudian .. lantai tempat tempatku semakin kuat bergetar seakan² enggan menyanggah tubuhku. Dari atas, kudengar dan kulihat barang² berjatuhan dan lampu padam .. mulai dari eternit, lampu, alumunium dan sebagainya seperti hujan dan aku hanya bisa berpegangan pada kaki meja yang kemudian baru kusadari ada seorang teman yang juga berlindung dibawah meja yang sama dengan ku.

Waktu seperti berhenti dan berjalan begitu lama .. tapi ku pikir tidak lebih dari 1½ menit cukup membuat ruangan dilantai keempat dari bagunan tempat ku bekerja porak poranda. Setelah goncangan berhenti .. lampu menyala, alarm berbunyi kencang dan aku keluar dari bawah meja dan menuju kembali ke kamar kerja .. bukan keluar dan turun kebawah.

Ya, aku kembal ke ruang kerjaku untuk mengambil laptop, HP, dompet, dokumen dan tas kerja ku yang kutinggal beberapa menit yang lalu. Subhanallah .. ruang kerjaku juga tidak kalah berantakan .. dokumen yang tadinya berserakan diatas meja, sekarang berpindah tempat diatas lantai bersama dengan lemari, televisi, gelas, majalah dan sebagainya.

Aku tidak sempat berpikir lama untuk mengemaskan barang² tersebut .. mungkin sekitar 15 detik aku sudah berada dipintu keluar setelah sebelumnya aku sempat mengaktifkan BlackBerry ku untuk merekam segala porak poranda tersebut. Kuperhatikan seluruh ruangan sudah tidak ada orang berganti dengan hancurnya seluruh ruangan.

Ketika berlari menuruni tangga .. aku menjadi sadar, bahwa barusan terjadi gempa hebat yang mampu merontokan dinding dan eternit sehingga memenuhi anak tangga bersama sepatu² hak tinggi milik rekan² ku yang tadi sudah turun duluan.

Hanya diperlukan waktu 15 detik juga membuat aku sudah berada dibumi, diluar gedung tepat pukul 17:21 .. berkumpul kembali dengan teman² yang sudah ada disana. Seorang teman bertanya : “Apa masih ada yang lain didalam pak?” .. ku pastikan bahwa aku orang terakhir yang keluar dari lantai lima .. karena sepanjang aku menuju kebawah aku tidak melihat yang lainnya.

Seorang teman kemudian mengajakku lari ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kemungkinan terjadinya tsunami. Saat itulah .. aku melihat dahsyatnya gempa kali ini. Sederet ruko tiga lantai didepan kantorku telah rata dengan tanah. Kulihat orang berkerumun disitu yang ternyata ada seorang yang terperangkap didalam gedung ketika menyelamatkan diri.

Aku terus berjalan ketempat yang lebih tinggi. Mencoba beberapa kali menghubungi atasanku dan keluarga ku menjadi sia² sampai seseorang yang mengatakan bahwa pake Flexi bisa .. dan alhamdulillah aku punya Flexi. Sempat terjadi gempa susulan tapi tidak terlalu kuat.

Sekitar jam 17:58 aku kembali ke kantor ku dan melihat dengan teliti bahwa gedung berlantai empat tersebut mengalami rusak parah. Beberapa waktu kemudian seorang bapak² mengampiri ku sambil berkata .. “Pak tolong telp anak saya. Saya ga bisa menghubunginya. Tadi dia miskol saya .. saya ga angkat. Dia minta jemput” .. dan pecah lah tangis sang bapak ketika aku mencoba menelpon anaknya tapi tidak berhasil.

Sambil mengatakan bahwa tempat bimbingan belajar (bimbel) anaknya yang tidak jauh dari kantor ku rubuh rata dengan tanah dan dia sangat menyesal tidak menjawab telepon anaknya tersebut. Dan aku tiba² dihadapi kenyataan yang tragis .. sebuah gempa bumi dahsyat yang telah terjadi di tanah minang ..